Jumat, 01 Januari 2016

Aku dan Kopi


Segelas kopi yang tenang dan kertas putih yang tak menuliskan apa-apa, aku ingin bercerita tentang kau. Kisah ini–dimulai dengan senyum dan rayuan yang terbit dari bibirmu. Apakah kau tersenyum saat membaca ini? Kuharap iya.
Merindumu sangat mudah. Tak bosan-bosan, aku mempuisikan hujan dan bintang sebagai engkau. Tapi tak ada yang lebih puitis, seperti ketika aku menyesap kopi lalu teringat tentangmu. Beginikah caramu mengikatku, dengan mengalir dalam nadi?
Aku lupa seperti apa rasanya tidak kecanduan olehmu. Namun, tak berani kusampaikan itu padamu, maka yang bisa kulakukan hanyalah bergerilya menggandakan perasaanku sendiri. Kau tidak pernah tau setiap malamnya, ada segelas kopi yang kuseduh sendiri; dingin dan tidak pernah diteguk, sama seperti cinta yang sudah lama tidak kau jenguk.
Karena kau adalah segelaskopi, maka aku ingin menjadi lidah yang rela menanggung kepahitanmu. Boleh?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar