Filosofi sebuah senja, begitu kata mereka. Sebuah senja tanpa kalimat, sebuah senja tanpa kata. Bisu yang penuh dengan cerita, tuli yang begitu penuh dengan simfoni malam. Kepada sebuah senja, kepada sebuah cerita yang diam tanpa kata. Seperti bicara, seperti sembunyi.
Cermin mata sebuah senja, cinderamata yang ditinggalkan kedua peran, antara matahari dan rembulan. Senja yang tidak dapat diceritakan, tempat dua dunia bersatu, tempat dua dunia bicara, tempat setiap manusia menemukan semua hal tentang imaji, tentang impi, tentang apa yang tidak dapat dimiliki malam ataupun pagi.
Bila sebuah senja dapat mempertemukan kedua entitas yang tidak mungkin dipertemukan, mengapa senja ada diantara transisi malam dan pagi? Antara matahari dan rembulan? Antara realita ataupun imaji?
Kepada sebuah senja yang diam bercerita,
"Aku adalah filosofi sebuah senja, aku adalah pertemuan yang diakhiri tanpa perpisahan, selalu pertemuan tanpa ada perpisahan. Aku adalah filosofi dari sebuah senja! Aku adalah senyum yang dipertemukan oleh malam rembulan, kepada ceria di dalam terangnya matahari."
"Aku adalah senja! Aku adalah transisi antara realita dan mimpi. Aku adalah senja! Selalu pertemuan tanpa perpisahan, aku adalah sebuah paradoks yang dikatakan dalam kedua belah pihak. Aku ingin menjadi sebuah senja! Antara dua manusia yang dipertemukan, menciptakan keabadian kepada dua cerita yang berbeda.
Karena suatu saat aku adalah matahari yang akan merindukan rembulan ataupun rembulan yang merindukan caya matahari.
Karena suatu saat akan ada senja lain yang mempertemukan kita, menyatukan kita pada suatu transisi kehidupan.
Karna senja akan mempertemukan kita lagi. Dengan senyuman.
Cermin mata sebuah senja, cinderamata yang ditinggalkan kedua peran, antara matahari dan rembulan. Senja yang tidak dapat diceritakan, tempat dua dunia bersatu, tempat dua dunia bicara, tempat setiap manusia menemukan semua hal tentang imaji, tentang impi, tentang apa yang tidak dapat dimiliki malam ataupun pagi.
Bila sebuah senja dapat mempertemukan kedua entitas yang tidak mungkin dipertemukan, mengapa senja ada diantara transisi malam dan pagi? Antara matahari dan rembulan? Antara realita ataupun imaji?
Kepada sebuah senja yang diam bercerita,
"Aku adalah filosofi sebuah senja, aku adalah pertemuan yang diakhiri tanpa perpisahan, selalu pertemuan tanpa ada perpisahan. Aku adalah filosofi dari sebuah senja! Aku adalah senyum yang dipertemukan oleh malam rembulan, kepada ceria di dalam terangnya matahari."
"Aku adalah senja! Aku adalah transisi antara realita dan mimpi. Aku adalah senja! Selalu pertemuan tanpa perpisahan, aku adalah sebuah paradoks yang dikatakan dalam kedua belah pihak. Aku ingin menjadi sebuah senja! Antara dua manusia yang dipertemukan, menciptakan keabadian kepada dua cerita yang berbeda.
Karena suatu saat aku adalah matahari yang akan merindukan rembulan ataupun rembulan yang merindukan caya matahari.
Karena suatu saat akan ada senja lain yang mempertemukan kita, menyatukan kita pada suatu transisi kehidupan.
Karna senja akan mempertemukan kita lagi. Dengan senyuman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar