Senin, 11 Januari 2016

Tatapanmu



Matamu sepasang hitam pekat yang teduh

Memandangmu, seperti rindang pepohonan ditengah kolam bunga teratai
Aku tercebur, jatuh dan mencintaimu
Dan cinta, berpendar dalam sejuta warna
Yang berkilau disela-sela kedipan matamu

Dan disejuk tatapanmu itu
Au ingin melukis puisi
Karena disana ada warna cinta
Yang menjadikan semuanya indah
Membuat rindu seteduh biru lautan
Yang tak henti menyusun gemuruh
Membuat kecemasan membias kelam seperti langit malam
Menunggu bintang-bintang bersinar
Membuat harapan secerah kuning mentari
Yang hadir ketika membuka jendela pagi
Membuat hijau barisan pohon cemara
Yang mengiringi langkah-langkah kita menapaki perjalanan
Yang membuat merah wajah kita
Setiap kali tak dapat menahan dahsyatnya debaran jantung
Dan sebait pelangi
Menyimpulkan seluruh warna dalam satu lengkung senyummu

Aku pinjam bulu matamu sebagi kuas
Hanya agar semua terlukis
Seperti engkau melihat semuanya
Karena ku tau
Tanganku tak mampu menggoreskan setiap warna selembut tatapanmu
Tidak juga mataku dan tidak juga mulutku


Jika ada yang bertanya kepadaku perihal sesuatu yang menenggelamkanku, membuatku enggan kembali pulang, mengumpat bahwa disana tempat segalaku bersarang; matamu.
Kedipannya pernah menjatuhkanku hingga ke dasar Magma,
Lirikannya pernah menancapkan ribuan anak panah cupid, menandaskan dalam-dalam di palung hati bersenggama dengan rasa sakit,
Basah yang berasal darinya melemahkanku, meruntuhkan peluk agar sesegera mungkin ku antarkan ke dadanya, berharap bisa membuatnya tentram atau sekedar menurunkan kadar nyeri agar sementara padam.
Lelaki,
Bagiku matamu ialah semesta yang patut aku puja, jendela bagi hal yang indah, juga jurang untuk membunuh birahiku yang kerap datang setiap masa.
Tolong, abadikan hal-hal yang baik dariku disana meski bukan aku kelak yang mencipta bahagia di dada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar