Bagaimana seandainya sebuah piring, pecah menjadi dua bagian, kemudian dia bertemu dengan pecahannya itu, dan masing-masing pecahannya tidak saling mengetahui bahwa mereka itu sebenarnya satu bagian yang pernah terpisahkan dengan dinding ruang dan waktu. Mungkin mereka selamanya tidak akan pernah saling bersatu lagi, seandainya mereka tidak saling "merepresentasikan" dirinya masing-masing antara satu sama lain, sehingga diantara mereka timbul keyakinan yang memang saling membenarkan bahwa sebenarnya mereka itu satu bagian, yang suatu saat saling membutuhkan dan tidak ada pengganti selain diantaranya. Mereka harus bersatu tidak boleh tidak, itu kehendak yang Maha Mengetahui.
Pada hakikatnya kehidupan itu sebuah pencarian, termasuk mencari pecahan dirinya dan itu akan terus berlangsung selama dia masih bernafas. Pencarian belahan diri akan berhenti ketika belahannya itu di temukan. Keafdhalan kebenaran belahan diri itu bisa diketahui ketika satu sama lain memperlihatkan kelancipan dan ketumpulan berkas pecahannya. Apabila kelancipan dan ketumpulan itu pas menyatu dengan presisi maka tidak akan ada benturan yang bisa merepresentasikan kembali keraguan kebenaran belahan mereka yang mampu melahirkan ketidakpercayaan dan saling menuduh, dirasa ada tipu muslihat di antara mereka, toh saling mengisi itu (baik-buruk) adalah intinya.
Mungkin analogi belahan piring ini terlalu naif, namun demikian kehidupan, ketika sebuah pertemuan berlangsung antara pribadi berbeda lawan jenis, kemudian menyatakan kesediaan untuk bersatu saling mengisi dalam kehidupan, mereka tak beda dengan bagian sisi yang terpecah dari sebuah piring yang pasti saling mengisi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar