Rabu, 30 Desember 2015

Senja Desember


Senja datang dan aku menangis
Sejadi-jadinya agar ia tahu hati ku tengah teriris
Mengingat lengkung bibirnya yang begitu manis
Mengingat senja dengan barisan katanya yang puitis
Sedikit berbeda tentang senja akhir tahun ini
Ada sedikit lara dari seseorang yang pernah datang
Yang telah berhasil menumbuhkan cinta, padanya dan senja
Tentang senja yang begitu indah 
Seindah itulah aku mencoba berkisah
Senja memang sementara tapi aku berharap kamu pun tak juga sementara
Hingga rona jinggamu mulai menghangat
Mengajarkan ikhas dan berserah setiap saat
Seolah tahu puing rasa ini tak perlu disimpan sampai berkarat
Senja, bawa saja rindu ini bersamamu
Jangan ingatkan lara pada hatiku saat kita bertemu
Bawakan lagi aku rindu, rindu yang lain, rindu yang jika boleh jangan yang sesakit ini
Sungguh senja kali ini begitu pilu
Bersama tapi tak saling membagi waktu
Mungkin seperti itulah kita dulu


Selasa, 22 Desember 2015

IBU

Bu, bagaimana bila sampai saat ini aku masih belajar mencintaimu? Mengumbar tanya dan ucap perihal cinta adalah tabu bagiku, aku kaku. Menghambur peluk dan kecup adalah malu bagiku, aku ragu. Karenanya, setiap hari adalah pembelajaran-pembelajaran yang terus berulang bagiku : aku belajar mencintaimu.
Ibu, bagaimana bila sampai saat ini aku masih belajar memahamimu? Mengerti setiap jengkal pemikiranmu tak pernah mudah bagiku. Kita seolah seperti dua buah jalan yang rumit, yang entah mengapa tetap selalu bertemu pada satu penjuru. Aku dengan kelokan-kelokanku, menujumu. Ibu dengan tanjakan-tanjakanmu, menujuku. Karenanya, melunturkan ego adalah pembelajaran yang belum pernah selesai bagiku : aku belajar memahamimu. 
Ibu, bagaimana bila sampai saat ini aku masih belajar menghormatimu? Mendahulukan segala kepentinganmu terkadang kulakukan dalam ragu. Pesan Rasulullah adalah bahwa kita harus mendahulukan Ibu tiga kali lebih banyak daripada Ayah. Tapi, aku merasa bersalah, karena aku pernah melakukan yang sebaliknya. Karenanya, mendahulukanmu adalah langkah-langkah kecil pada jalanan panjang yang harus aku lalui. Bagaimanapun, aku belajar : aku belajar menghormatimu. 
Ibu, bagaimana bila sampai saat ini aku masih belajar mengidealkanmu? Meyakinkan diriku sendiri bahwa kita adalah lingkaran padat yang saling mengisi satu sama lain adalah lelah yang sekuat hati harus aku kendalikan. Karenanya, mengidealkanmu yang selalu membanggakan aku adalah tanjakan gunung tinggi yang harus aku taklukan, aku belajar mendaki menuju puncak : aku belajar mengidealkanmu. 
Mencintaimu, aku belajar. Memahamimu, aku belajar. Menghormatimu, aku belajar. Mengidealkanmu, aku belajar. Menghormatimu, aku belajar. Mengidealkanmu, aku belajar. Berjalan ke syurga bersamamu, mari kita belajar. Menangkan!
Tidak ada sutera yang begitu lembut seperti belaian seorang ibu. Tidak ada tempat yang paling nyaman selain pangkuan seorang ibu. Tak ada bunga yang lebih cantik selain senyummu. Tak ada jalan yang begitu berbunga-bunga seperti yang dicetak dengan langkah kakimu. Kau adalah alasan kenapa aku ada. Keajaiban dalam hidup, adalah terlahir dari rahimmu. Seorang wanita yang telah memberiku cinta dan pengorbanan.

Minggu, 20 Desember 2015

INGINKU



Air mata ini sudah biasa menetes, bila yang terjadi tak sesuai yang ku inginkan. Aku memang cengeng, semua hal sudah ku coba untuk melupakanmu, tapi apa yang kurasakan seperti tak sejalan dengan keinginan ku. Aku tak tau kau siapa sebenarnya? kenapa kau jadi ujian terberat untuk hidupku? kenapa kau hadir kemudian pergi dariku?

Aku benci semua kejadian ini, bahkan aku sempat benci untuk berdoa, karena semua yang ku ingin seakan semua menjauh dariku, tapi aku tau inilah salahku, inilah hal yang membuatku menjauh dari Allahku. Aku tak ingin seperti ini. Dia yang punya hidupku seutuhnya tak mungkin ku bisa lepas dariNya. Maaf ya  Rabbi untuk semua dosaku.

Allah mengirim orang-orang dengan niat yang sama denganku. Tapi satupun tak ada yang bisa mengetuk pintu hatiku. Dan kemudian ada orang -orang yang datang membawa harapan dan mereka juga kemudian pergi dariku.

Aku sama sekali tak mengerti ada apa denganku? Apa kesalahan yang telah ku lakukan? Ikhtiar apa yang kurang dari diriku ? Dan doa mana yang tak kuucap setiap hariku ? Semua seperti termentahkan dengan kenyataan ini.

Apa yang salah denganku? Apa yang seharusnya ku lakukan? Bagaimana caranya aku keluar dari hal ini?

Semua pertanyaan itulah yang sekarang ada di otakku. Aku hanya berharap semuanya bisa segera berakhir dengan indah.

Jumat, 18 Desember 2015

SENDIRI


Aku suka sendirian, karena ketika sendirian aku bahkan tidak merasa kesepian. Aku menikmati ketidakberadaan orang lain di sekitarku, di pikiranku lebih tepatnya. Eksistensi seseorang di pikiran (dan kadang di hati) aku rasakan lebih nyata ketimbang keberadaannya tepat di samping, di depan, atau dimana pun di dekatku
Terkadang aku membenci orang yang terlalu rakus menguasai pikiranku. Entah bagaimana mereka bisa berada di dalam kepalaku, aku juga tidak mengerti. Dan yang lebih aku tidak mengerti adalah, ketidakmampuanku untuk menghalau mereka memasuki pikiranku. Aku seperti tidak berdaya. Bahkan sering aku menikmati menghabiskan waktuku untuk memikirkan mereka yang akibatnya secara tidak langsung aku sudah merelakan setengah otakku untuk dikuasai mereka. Dan saking rakusnya mereka, daerah kekuasaan mereka tidak hanya sampai di otak, tapi merembet semakin luas hingga ke hatiku.
Mereka terus menerus menggerogoti hatiku. Entah itu oleh kebencian atau cinta. Aku lebih suka yang pertama. Terasa lebih jujur dan lebih dari hati. Sedangkan yang kedua itu lebih sering palsu. Baik karena ada maunya. Tidak tulus.
Dan ketika seperti ini, aku tidak akan pernah merasa bisa sendiri. Seperti ada orang lain yang berwenang atas diriku ketimbang aku sendiri. Eksistensi mereka jauh lebih berbahaya saat mereka sudah berhasil menguasai hatiku dengan cinta ataupun kebencian. Aku takut kehilangan kesendirianku.