Sabtu, 27 Februari 2016

Rindu dan Rindu Lagi


Dua bulan yang lalu, aku masih bisa menatap pandangan matamu yang tajam, aku bisa merasakan kehadiranmu, goresan luka menghentakan waktu, dan suasana berujung pilu. Mengguratkan abu di langit biru. Rintik hujan berseru seakan alam pun tau. Sampai kini pun kau tak pernah mau. Sampai kapan langit ini terus berkelabu?
Haruskah aku yang terjatuh, terinjak-injak dan terjatuh kembali ini mengajakmu kembali memandang langit biru yang berganti senja? Bisakah aku yang terjatuh, terinjak-injak, dan terjatuh kembali, berdiri lagi menatap pandanganmu yang tajam itu? Bisakah aku mengajakmu memandang langit biru? Bahkan mungkin kamu takkan peduli jika aku dapat berdiri kembali, menatapmu dengan segudang pertanyaan.
Aku menatap hamparan lautan biru. Mencoba bersabar menanti senyuman senja di sudut langit biru. Pasir hangat yang terjemur terik mentari, menopang tubuhku. Angin laut menyentuh tulangku, menyadarkan ku dari lamunanku. Luka ini terasa pilu diterpa angin laut. Dia menyapu butiran suci yang tidak bisa dibendung lagi.
Aku melihat batu karang yang terhempas deru ombak. Batu itu sangat besar dan kuat. Namun sebesar dan sekuat apapun batu itu.Seiring berjalannya waktu, akan hancur berkeping keping di hempas deru ombak.  Namun sayangnya “batu” ini berbeda, batu ini terlalu kokoh. Apapun yang menghalanginya, ia takkan pernah mengalah, bahkan mungkin ombak yang menghempasnya yang akan hancur.

Aku menatap kembali langit biru dengan penuh keraguan. Langit biru pun berganti senja. Aku menatap sendiri lukisan lembayung di langit senja. Menatap pantulan senja di lautan biru. Aku masih mematung di atas pasir. Hanya aku sendiri yang memandang senja. Bukan dengan kamu ataupun dia. Hanya aku seorang. Memandang senja bersamaku pun engkau enggan.

Apalagi “menatapku” kembali?

Apa harus aku terombang ambing di lautan biru, terguling-guling di lembahan yang berliku liku, terjatuh dari ketinggian, terinjak-injak dari kebenaran, dan terisak-isak memanggil namamu, agar kamu mau menoleh ke belakang, menatapku kembali?
Sampai kapan begini?
Sudah tak pedulikah kamu?

Kamis, 25 Februari 2016

Perihal Diam



Mataku diwarisi basah oleh diammu. Ia lelah mencari celah untuk tahu kedalaman hatimu. Serupa percuma, sebab aku bukan cenayang yang bisa tahu tanpa kamu bercerita dengan runut satu-satu.
Pertemuan adalah gerbang. Katamu. Kau akan mengajakku masuk untuk melihat semuanya tanpa ada lagi rahasia. Aku khawatir. Kalau-kalau, kau pikir, menemuimu tak pernah mampir di kepalaku.
Aku rengkah dengan kedalaman yang sama, sebab diammu yang juga sama. Kekasih, beratkah berkata sudah? Enggankah berkata tolong betah? Bagimu, sulitkah untuk berhenti membuatku regah?
Banyak yang ingin aku tanyakan. Meski tak yakin semuanya akan bermuara pada sebuah jawaban; meski nanti akhirnya takdir kita adalah dipertemukan.
Mungkin aku yang salah. Terlalu dalam tenggelam pada dadamu yang hingga kini bagiku masih terasa kelam. Aku minta maaf, sudah menitipi pundakmu dengan harapan yang terlalu tinggi. Kepalamu pasti pusing sekali.
Kali ini jangan berkata tidak apa-apa! Katakan kau tidak suka dan ingin aku pergi saja.

Selasa, 23 Februari 2016

Maaf


Sepertinya kita memang ditakdirkan Tuhan untuk bertemu. Hari itu kita sama-sama menunggu tanpa tau apa yang sedang kita tunggu. Hari itu juga gerimis turun satu-satu, suasananya membuat rindu.. Oh bukan, bukan rindu. Tapi syahdu.
Sehari, dua hari, intensitas temu semakin menjadi-jadi. Tak ada hal yang luar biasa. Hanya saja, aku semakin sering menatap punggungmu, atau bahkan mencari sosok lugumu ditengah suasana riuh sekolah yang membuat haus. Tapi aku tak seberani itu untuk berada dihadapanmu.
Beberapa tulisanku yang menggunakan sudut pandang orang kedua kini selalu tentangmu. Ya, tak pernah ku pungkiri itu. Karena lidah terlalu kelu untuk menyampaikan apa-apa tentangmu, namun diujung pena kutuliskan beribu kata yang mungkin tak akan pernah kau tau.
Ah, kadang aku bertanya, ada apa denganku. Sepertinya sudah mulai menanggalkan masa lalu. Karenamu kah? Atau memang kamu adalah salah satu dari jutaan manusia yang memang diciptakan untuk menyembuhkan luka untuk siapa saja. Ya, untuk siapa saja, bukan hanya untukku. Karena itu aku cukup tau diri, kutanggalkan semua tentangmu sebelum semuanya benar-benar menjalar dan membuat hatiku semakin jatuh terkapar.
Ini bukan surat untuk disampaikan, hanya sekedar tulisan dari gadis yang baru saja terjatuh dalam pesona seseorang yang biasa saja namun dengan segala kesadaran harus segera melepaskan.
Ya, untuk seseorang yang mungkin hatinya sudah terisi penuh oleh sebuah nama. Maaf atas segala keabnormalan perasaan.

Minggu, 21 Februari 2016

Allah Ciptakan Rasa Rindu


Kenapa Allah ciptakan rasa Rindu ?
Karena Allah ciptakan rasa cinta, ini bukan jawaban, ini hanya pengantar menuju jawaban. Jika kita tahu seperti apa dan bagaimana hubungan rasa rindu dan cinta, kita tahu kenapa rindu mesti ada.
Ciri-ciri orang yang jatuh cinta atau orang yang punya cinta atau apa lah namanya salah satunya adalah rindu, kerap kali merindukan pertemuan, menatap wajah dan lain sebagainya.Rindu sendiri muncul ketika ada sebab yang membuatnya menampak. Sebab itu adalah kata “jarang”. Dua jiwa yang jarang bertemu membuatnya saling merindu, rindu sebuah pertemuan. Bila sudah bertemu, maka seketika rindu pun terobati. Dari sini maka kita tahu bahwa obat rindu adalah pertemuan.
Cinta dan rindu ibarat Nasi goreng dan garam. Tanpa garam, nasi goreng akan terasa hambar. Artinya, Cinta lebih berasa jika dilengkapi rindu. Semua orang yang merindukan sesuatu hampir bisa dipastikan mencintai sesuatu, tapi tidak semua orang yang mencintai sesuatu merindukan sesuatu itu, hal ini logis jika sebab dari kemunculan rindu tidak ada, misalkan karena orang tersebut “sering” bertemu. Oleh karenanya saya katakan diawal bahwa rindu adalah satu tanda cinta dari beberapa tanda lainnya, jika tanda cinta itu tidak ada, bukan berarti cinta nya tidak ada, sama halnya seperti nasi goreng, jika garam tak ada, bukan berarti nasi goreng tak ada, boleh jadi nasi goreng tetap ada, tapi tentunya dengan rasa berbeda (hambar), pun begitu pula cinta, jika rindu tak ada, boleh jadi cinta tetap ada, namun tentunya dengan rasa berbeda.

Hal dahsyat lain sebagai contoh tentang rindu, apa kata Allah tentang kabar gembira bagi orang yang berpuasa? orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan yang salah satunya adalah “Berbuka Puasa”. Bukankah jika direnungi ada rindu disini? Hal yang manusiawi jika menahan diri dari sesuatu yang mubah/boleh (seperti makan, minum, dan hubungan bagi pasangan suami isteri) dari terbit matahari hingga tenggelamnya membuat saat buka menjadi saat-saat yang membahagiakan, kenapa? Karena saat itu lah memang yang dirindukan. Dengan demikian kita tahu bahwa puasa menjadi begitu berasa karena ada rasa rindu bertemu buka, lihat lah bagaimana jika puasa tanpa menahan diri dari yang mubah, atau tanpa buka puasa, atau dengan buka tapi setelah dua hari? Bagaimana rasanya kerinduan berbuka selama dua hari, tentunya sangat menyakitkan bukan?

Rindu pun terkadang menyiksa dan menyakitkan, terutama rindu yang muncul disebabkan karena bentangan jarak yang terlampau jauh sehingga “jarang” menjadi “semakin jarang”. Apa yang salah dari nasi goreng keasinan? Apakah karena garamnya itu sendiri? bukan, tapi karena porsi atau takarannya yang berlebih, sama halnya dengan rindu, porsi atau takaran yang berlebihan hanya lah membuat rindu menjadi semakin menyakitkan, bahkan terkadang menyiksa. Allah telah menegaskan lewat Nabi-Nya bahwa jangan lah seseorang terlalu mencintai sesuatu secara berlebihan, karena boleh jadi dikemudian hari dia membencinya, begitu pula sebaliknya, jangan lah seseorang terlalu membenci sesuatu karena boleh jadi dikemudian hari dia mencintainya. Intisari dari ungkapan ini adalah tentang “Porsi” atau “Takaran”, di semua hal ada takarannya, ada porsinya masing-masing. Lebih dan kurang ada konsekuensi atau akibatnya tersendiri. Disini lah rindu menguji sahabatnya, jika terlalu berlebihan ia akan menyiksanya, jika kurang ia akan membuatnya merasa hambar.
Rindu tidak dapat dikebiri, semakin ditahan ia semakin menyakiti, rindu hanya bisa diatur dengan skala prioritas, siapa atau apa yang mesti kita rindukan terlebih dahulu. Apa yang musti lebih banyak jika kita memasak nasi goreng? Garamnya lebih banyak dari nasinya atau sebaliknya? Jika ada dua orang dalam hidup kita, kekasih dan ibu kita, dan misalkan keduanya jauh dari kita. Apakah rindu kita layak melahap habis waktu kita karena memikirkan kekasih? Kekasih nomor satu atau kah ibu nomor satu? Ini hanya lah gambaran kecil dari sekian banyak gambaran.
Jika Cinta kepada dunia tidak ada, apakah rindu ada? Ini bisa dianalogikan dengan rumah, jika rumah tidak ada atau tidak dibuat, apakah batu-bata tidak ada? Jika nasi goreng tidak ada, apakah garam juga tidak ada? Keduanya tetap ada dan muncul dua kemungkinan, digunakan untuk yang lain, atau tidak digunakan sama sekali. Kemungkinan pertama, seseorang boleh saja tidak memiliki rasa cinta kepada dunia misalkan, dengan demikian ia tidak rindu mendapatkan harta melimpah, tidak rindu mendapatkan pasangan ideal, tidak rindu bersama kemewahan, dan lain-lain, ia hanya rindu kenikmatan surgawi. Bukan kah rindu tetap ada? Hanya orientasinya berubah menjadi rindu kepada kenikmatan surgawi, atau digunakan untuk meraih kenikmatan akhirat, bukan untuk menambah rasa pada cinta dunia, tapi menambah rasa kepada cinta akhirat.
Kemungkinan kedua, tidak digunakan sama sekali. Seperti apakah contoh rindu yang tidak digunakan? Ini menuntut untuk memercepat jawaban dari pertanyaan kenapa rindu diciptakan Allah? Jawabannya adalah “Agar membuat sesuatu menjadi lebih berasa (baik berasa lebih indah atau sebaliknya, menyenangkan atau menyakitkan”. Jika rindu tidak digunakan maka sesuatu itu tidak berasa atau hambar (biasa-biasa saja), seperti dua pasang kekasih yang sering bertemu, puasa dengan makan dan minum seperti biasa, dua sahabat yang setiap saat bahkan detik bertemu, dan lain-lain. Rindu tetap ada, beradasarkan realitas, namun tidak difungsikan, tidak difungsikan untuk apa? Untuk menambah rasa! Jika garam tidak dipakai dalam pembuatan nasi goreng, maka garam tidak difungsikan, tidak difungsikan untuk menambah rasa asin, hasilnya bagaimana? nasi goreng tidak berasa.
Demikian lah mengapa Allah menciptakan rasa rindu; untuk menambah rasa, dan ini hanya salah satu hikmah dari hikmah-hikmah lainnya yang masih tersembunyi dan belum terungkap.

Kamis, 18 Februari 2016

Lagi-lagi Kamu



Konon, ini adalah wabah yang pasti diderita oleh penghuni ruang tunggu. Seperti endemik, ia tidak mungkin dibasmi atau dipindahkan dari sana. Menunggu adalah aktivitas yang sudah disepakati menjadi biang keroknya. Lalu, apakah menunggumu juga akan menyebabkan rindu? Kamu pasti bertanya demikian. Di ruang tungguku,sepi adalah penyebar utamanya. Ia selalu menyelinap masuk dari jendela. Sebagai penyakit yang pasti kuderita, apa boleh buat, yang harus dilakukan adalah mengakrabinya. Manusia yang berada di luar ruang tunggu berkata, satu-satunya obat rindu adalah bertemu. 
Hei kamu, apa yang akan terjadi padaku, si pengidap rindu yang belum tahu di mana kamu. Lalu bagaimana nasibku bila itu adalah satu-satunya penawar Bagaimana jika? Bagaimana jika? Bagaimana jika? Itu pertanyaan yang selalu datang ketika aku mengharapkan pertemuan. Ia bagaikan harga yang harus kubayar tunai untuk mendapatkan penawar. Pertemuan merupakan kemewahan yang tak mudah didapat. Ia adalah penawar paling mahal bagi manusia ruang tunggu.
Haruskah aku jual benda-benda yang ada di sini? Waktu. Ya, haruskah aku menjualnya? Padahal dia adalah teman paling setia. Atau aku harus menjual kesetiaan? Kata orang, harganya paling mahal di luar sana. Kenangan? Apakah ia berharga? Siapa yang mau membeli kenangan manusia ruang tunggu? Di dalamnya hanya ada kisah-kisah kebosanan menaklukkan penantian. Bagaimana menurutmu bila kebosanan itu yang aku jual? Ah, siapa yang mau beli. Nampaknya dijual di pasar ikan pun tidak akan ada yang membelinya. Diobral, bahkan ditulisi kata “sale” belum tentu ada yang mendekat padanya.
Buatku, membeli penawar adalah sesuatu yang agak berat. Surat-surat ini mengkin jadi terapi. Memang tidak akan mengobati, tapi paling tidak, bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya. Ngomong-ngomong, di luar sana, apakah kamu pernah mengalami penyakit yang sama? Menurut desas-desus, kecemasan menjadi penyakit yang menimpa manusia jenis kalian. Apa yang kamu cemaskan, Sukab? Bahkan penyakit yang menjangkitiku adalah kamu penawarnya. Kamu harus terbebas dari kecemasan. Jangan sampai kamu mati karena penyakit itu. Mati dalam kecemasan merupakan kematian paling takberharga. Cukup berpikir, kamu harus hidup untuk menyelamatkanku dari wabah ruang tunggu.
Aku sering melakukan kesepakatan dengan Tuhan. Bagaimana jika aku keluar dari ruang tunggu ini dan mencarimu. Tuhan berkata bahwa kamu sedang mencariku. Aku jadi urung melangkahkan kaki. Bagaimana ceritanya dua orang yang saling mencari akan bertemu? Bukankah pasangan sejati adalah mencari dan dicari. Mungkin Tuhan memberi peringatan bahwa orang-orang yang dicari tidak boleh berkeliaran. Dalam keadaan menunggu seperti ini, aku selalu berpikir keras, apakah kamu sadar sedang ditunggu? Jangan-jangan kamu tidak sadar sedang ditunggu? Bisa jadi kamu malah sedang menunggu. Boleh jadi, kamu malah tidak sedang  mencariku. Intrupsi-intrupsi tentangmu kerap aku sampaikan kepada Tuhan. Namun, hanya ada satu jawaban untuk manusia jenis kami: keyakinan. 
Jawaban itu menjadi rasa sakit yang lain lagi. Kata-Nya, itu vaksin yang menjaga imunitas di ruang tunggu. Haruskah aku takmempercayai Tuhan dalam hal ini? Terlalu durhaka memang. Vaksin ini sudah tersedia di setiap sudut ruang tunggu. Hanya saja, tidak setiap orang memilihnya. 
Pada lain waktu, aku meminta izin untuk mencari orang-orang yang mungkin mengenalmu. Tidak perlu bertemu, mungkin hanya menelpon, atau facebook. Ia malah berkata, kepada siapa kamu akan bertanya? Aku salah ucap kepada Yang Maha Tahu nampaknya. Aku terlalu malu untuk bertanya kepada-Nya karena Ia paling tahu kebusukanku. Ia paling tahu kesiapanku bertemu kamu. Akhirnya aku menyerah pada surat-surat yang berakhir di ruang tunggu.
Tetaplah hidup, karena aku masih bertahan hidup sampai saat ini. Jangan terlalu cemas, karena aku baik-baik saja dengan keadaanmu yang sekarang. Kita hanya perlu bertemu sekali. Apa yang akan terjadi setelah itu, kita pikirkan nanti.

Selasa, 16 Februari 2016

Pada Akhirnya.....



Kamu masih menjadi raja, duduk di singgasana yang kubangun dari sesuatu bernama cinta. Dan rupanya, cemburuku mengawalmu dengan setia, mengikuti ke mana kamu melangkahkan kaki. Aku hanya jelata, melayanimu demi secawan temu penawar rindu.
Lelahku jangan ditanya. Rinduku bukan satu-dua. Ia tak terhingga, memenuhi ruang di kepala, menyesakkan rongga dada. Melayanimu, aku inginnya berhenti saja, membiarkan rindu berdiam di sana; di kepala dan rongga dada. Namun sayangnya, ia semakin berkuasa. Ditanamkannya luka untuk setiap rindu yang tak terbayar. Bukan main sakitnya. Tak berdaya aku dibuatnya.
Pernah aku mencoba, menuliskan rindu-rindu itu pada lembaran-lembaran, lalu kuterbangkan. Barangkali ia hendak berpindah tujuan. Tapi nyatanya, hingga aku jemu, rinduku tetap memilihmu.
Katakan rinduku tak tahu diri, menginginkanmu yang terlalu tinggi. Siapa yang akan peduli? Aku? Tidak sama sekali. Percuma saja, karena pada akhirnya, hingga aku membenci diri sendiri, rindu untukmu masih enggan pergi.

Sang Pemilik Senja


Tak selamanya senja milik jingga, karena ada kalanya senja itu kelabu, jadi siapa pemilik senja itu? pemillik senja adalah semesta, karena saat senja menjadi jingga atau kelabu, semesta selalu setia menemaninya.
Sama seperti kita, aku adalah semesta, kau adalah senja yang menghangatkan, dan dia adalah jingga yang terkadang mengindahkanmu.
Jenuh, lima huruf yang penuh dengan kebingungan, kamu tahu? saat jenuh datang, kan ada yang tersakiti dan ada yang tersenyum gembira, semesta terasa tersakiti saat senja lupa akan semesta, pemilik senja yang sebenarnya, sedangkan jingga? dia kan senang saat dekat dengan senja, karena saat senja berwarna jingga, ada keindahan yang tercipta, sampai senja pun lupa siapa pemiliknya yang sebenarnya.
Saat senja terhalang awan mendung, siapa yang setia menemani senja? saat senja tertutup kabut, siapa yang berusaha memohon kepada matahari agar menerangkan senja? siapa? semua tahu jawabannya, tapi kenapa? kenapa saat semesta berusaha dengan penuh untuk menjaga senja, saat itu senja malah begitu asik dengan jingga?
Senja, kau menghangatkan, kini kau sedang bersinar indah bersama jingga, bersenang senanglah, tapi saat keindahanmu menjadi kelabu, semesta yakin senja akan pulang, karena semesta adalah tempat senja pulang.
Senja berbahagialah bersamanya, jingga sang pengindah senja, semesta kan menunggu walau harus teracuhkan.

Kamis, 04 Februari 2016

Rindu?


Rasanya setiap hari ingin bercakap denganmu. Meluahkan segala rindu atas cinta yang tertahan. Menghilangkan segala gundah yang sesakan dada. Kau tahu, hampir mati hati berjuang bertahan memikul rasa ini.
Namun setelah dipikir lagi, inilah yang terbaik untuk kita, tetap diam memendam rasa, untuk kuat tak bertegur sapa, atau sekedar bertanya-tanya, untuk sesuatu yang tak perlu ditanya.
Karena jika memang berjodoh, ini akan jadi butiran noda, perusak cinta yang hati idamkan. Bukankah hati ingin cinta suci tanpa noda? Marilah simpan derap cinta ini hingga saatnya tiba. Saat bersama pasangan yang halal, entah bersamaku atau bersamanya..
Namun jika memang bukanlah jodoh, ini tetap akan jadi butiran noda. Perusak cinta yang dihalalkan. Mengusik ketentraman hubungan, bersama dia yang ditakdirkan..
Bisakah hati melupakan orang yang telah mencurinya?
“Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi; tapi ia mengerti; mendekat pada sang kekasih justru membinasakan"

Rabu, 03 Februari 2016

Kelak Aku



Kelak akan kau jumpai aku yang jenuh pada tunggu dan waktu yang akan memberitahumu tanpa aba-aba terlebih dahulu.

Bagaimana bahagiamu? Sudahkah dia hadir-kau hadirkan di hidupmu? Aku melihatnya di senyummu. Tetapi aku masih aku yang dulu, kamu. Yang masih saja sulit membedakan mana kamu yang bahagia, dan mana kamu yang terlihat bahagia. Aku hanya merasakan auramu, kamu.
Bagaimana kabarmu? Melihatmu masih dapat tersenyum, aku dapat mengetahui kamu sedang baik. Tetapi untuk baik-baik saja, aku belum bisa mengetahuinya dengan pasti.
Aku masih penuh dengan prasangka, ya? Percayalah aku selalu mencoba menghilangkan dan mencari alasan alasan positif atas semuanya. Terutama kendali atas perasaanku sendiri.
Aku mungkin masih menunggumu. Aku hanya merasa bohong saja ketika aku berkata aku sudah berpaling. Karena kenyataannya, ya aku masih disini.
Kamu tau, aku sedang menunggu jenuh ku. Semoga dia datang tepat waktu. Tidak perlu secepatnya. Karena apa yang aku pikir buruk, belum tentu buruk menurutNya. Menunggu jenuh untuk menunggu. Menunggumu. Aku lucu ya? Seakan aku berharap untuk segera dipalingkan ke hati yang lain.
Dan kamu perlu tau, waktu yang tepat untuk jenuh akan datang tanpa aba-aba. Yang membuatku dapat segera *puff, menghilang dari tempat duduk manisku, tempatku menunggumu. Aku tidak peduli lagi, apakah kau akan datang meskipun terlambat. Karena aku sudah jenuh saat itu.
Mungkin. Hanya mungkin. Karena aku masih perempuan yang dapat dengan mudah luluh. Tolong, jangan kau anggap remeh soal tunggu-menunggu ini. Apa hanya karena kamu lelaki sehingga kamu dapat mendatangi semua pintu yang kamu inginkan?
Dan jangan lupa kemungkinan bahwa perempuan juga dapat benar-benar jenuh. Aku juga dapat benar-benar jenuh. Semoga kamu siap. Dan jatuhlah pada pintu-pintu yang kau ketuk. Datangi dia, rangkai cerita dan mungkin kamu lupa pernah memintaku menunggu. Tidak apa. Toh saat itu aku sudah jenuh.

Aku Jenuh Kawan


 “Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah berjaga hingga kelesuan itu lesu menemanimu. Dan teruslah berjuang, hingga kejenuhan itu JENUH memerangimu!”

Saat kau tak ada di sampingku kala aku tengah tersengal-sengal berjalan, aku takkan marah padamu, kawan. Saat aku tengah letih melanjutkan perjalanan hingga akhirnya aku memilih berdiam sejenak, aku takkan menuntutmu untuk bergerak membantuku, minimal memberikan aku makan ataupun minum penghilang rasa letih ini, aku takkan menuntut itu, kawan.
Tapi kala aku berdiam senejak, aku merasakan kejenuhan, kawan. Aku jenuh dengan perjalanan ini. Jalanan ini terlalu sepi, jalanan ini gersang, tak kutemui ada pohon rindang di sepanjang jalan ini, dimana aku bisa sekadar duduk merasakan semilir angin sejuk di sana. Padahal matahari sedang terik-teriknya sejak kumulai perjalanan ini. Aku menghela nafas. Kulanjutkan perjalanan ini dengan langkah gontai.
Lalu, kurasakan ada aliran hangat di kedua pipiku.
Aku berjalan. Aku berjalan dan kadang menoleh kebelakang, berharap kutemui kau menyusulku. Tapi nihil, kawan. Aku kembali menghela nafas. Aku bergumam dalam hati, “Tenang kawan, aku mengerti. Kau orang yang sibuk, lebih sibuk dariku. Kau punya amanah dimana-mana.” Aku tersenyum sambil menyeka aliran hangat yang sedikit mengering di kedua pipiku.
Aku takkan memaksamu untuk peduli padaku. Aku takkan memaksamu berjalan bersamaku. Karena aku pun tahu, jalan ini tak enak. Jalan ini sungguh tak enak. Bagaimana mungkin aku memaksamu, sedang aku terus-terus merasakan kejenuhan di jalan ini. Kau pun pasti mengerti, jika saja jalan ini enak, sudah pasti banyak yang kan melewatinya. Jalan ini takkan sepi jika saja ada kau di sini, kan? Tapi, itu hanya sekadar harapku.
Takkan kupaksa kau berletih-letih di jalan ini. Kan kubiarkan kau memilih jalan yang kau sukai. Asalkan, kau lalui jalan itu dengan sabar dan semangat tak kenal jenuh. Tapi jika kau jenuh, kau boleh sesekali mengabarkan padaku. Aku pasti akan ada, menjadi tempat sandaranmu kala kau butuh tempat bersandar untuk sekadar melepas kejenuhanmu.

Selasa, 02 Februari 2016

Perihal Jodoh



Jangan memutuskan untuk tidak menikah lantaran pernah merasa tersakiti oleh seseorang yang dulu pernah kau cintai. Kau tidak pantas menghukum dirimu sendiri dengan trauma berkepanjangan. Buka mata, hati, telinga dan pikiranmu, biarkan Dia mengirim hidayahNya padamu untuk menyembuhkan luka hati serta membuatmu kembali berpijar. Tuhan “mengikuti” prasangka hambaNya, jadi aku harap kau tak berprasangka buruk kepadaNya. Jodoh terbaikmu ada, jika kau berdoa dan yakin pada doa yang kau panjatkan padaNya.
Jangan pesimis kemudian larut dalam keputusasaan bila selama ini kau sudah berkali-kali gagal dalam membina hubungan dengan seseorang. Karena biasanya dalam sebuah film, yang baik dan tidak berputus asa akan selalu menang di ending cerita, dan di dunia nyata itupun berlaku. Jadi, bersabarlah tanpa pernah berputus asa. Tuhan menyayangimu lebih dari yang kau tahu.
Jangan dulu untuk memutuskan jatuh cinta kepada seseorang hanya karena alasan “nyaman”, sebab yang membuatmu “nyaman” belum tentu bisa membimbingmu ke jalan lurus yang di Ridha-i Tuhan-mu. Jatuh cintalah pada dia yang mencinta Tuhan-mu, jangan paksa dirimu untuk mengendalikan hatimu (sebab kau tak akan mampu) kita hanya manusia biasa yang setiap detik selalu membuat kesalahan, hati kita lemah dan selalu berubah-ubah. Biarkan Tuhan-mu yang mengatur, membimbing dan menjatuhkan hatimu pada seseorang yang shaleh menurutNya, dan bukan menurut standar-mu.
Kebaikan selalu ada bagi dia yang percaya dan yakin pada apa yang dia percayai. Akhiri kisah perjalananmu dengan kebahagiaan yang baik dan membaikan, jangan akhiri ujung ceritamu dengan penyesalan.

Jumat, 29 Januari 2016

Perihal Menunggu II



Bila memang kita sedang menunggu ia yang katanya terbaik untukmu, biarlah kita menunggu dengan sebaik-baiknya menunggu. Dengan mencari sebanyak-banyak ilmu tentang hakikat menunggu, memahami sebanyak-banyaknya nasihat tentang yang baik bagi yang baik. Melapangkan dada selapang-lapangnya tentang siapapun yang didatangkan Tuhan pada kita.
Bila memang kita sedang menunggu dia yang katanya akan menyayangimu sepanjang hidupnya. Mari kita mencari-cari perhatian Tuhan, bukan mencari perhatian dari selain Tuhan. Biar Tuhan tau bahwa kita sedang menjadi yang baik, biar Tuhan amat yakin bahwa kita sedang berjuang untuk hamba-Nya yang baik.
Bila memang kita sedang menunggu ia yang akan setia memayungi kita kala hujan dan terik datang. Biarlah kita selalu terjaga, terjaga untuk selalu berdoa pada Tuhan agar kita segera diselamatkan Tuhan dari jatuh yang terlalu pada orang yang salah, diselamatkan Tuhan dari percaya yang terlalu pada kata-kata yang tak pernah ditepati, diselamatkan Tuhan dari patah yang sampai membuat kita lupa pada Tuhan.
Bila memang kita sedang menunggu yang baik, biarlah kita menjadi baik bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk Tuhan, agar Tuhan tersenyum bahagia saat mendatangkan yang baik pada kita.

Dua Pilihan



Pada akhirnya kita memang dihadapkan pada dua pilihan, menunggu atau pergi berlalu?
Tak terkecuali saya, situasi di mana kita harus jeli untuk lebih memilih hati atau pikiran bahkan memilih untuk menyeimbangkan keduanya.
Ada satu hal yang membuat kita memilih untuk menunggu, biasanya karena seseorang yang kita cinta, seseorang yang sama kamu rindukan tiap harinya. Satu hal yang lainnya adalah hati. Hatimu apa kabar? Akankah terus baik-baik saja saat kau memutuskan untuk menunggu? Saya pikir hati takkan pernah baik-baik saja saat keputusan itu diambil, entah dalam waktu lama atau sebentar. Karena banyak alasan, pernah tahu mencintai dengan diam? Mencintai dari jauh? Mencintai karena alasan-alasan tak tentu? Memang, takkan pernah ada satu alasan pun kenapa mesti cinta.
Pergi berlalu pun seperti menunggu, hati terpaksa merawat sendiri lukanya. Dengan merelakan segala yang pernah kita anggap sebuah pertemuan menjadi sebuah kehilangan yang percuma. Karena tak sekali pun ada rasa yang demikin juga dirasa olehnya. Bukan begitu? Tapi kau tahu bukan, kalau sebuah kehilangan adalah awal dari menemukan yang lainnya. Sekiranya hatimu sesaat terhempas, sakit memang. Namun pada akhirnya, akan ada seorang dia yang membantu merawat lukamu sampai sembuh, sampai benar-benar sembuh.
Lagi-lagi, mengikutsertakan Tuhan dalam setiap perkara hati memang kunci. Karena kamu bisa lebih tahu mana benar mencintai atau mengagumi. Dengan sendirinya, Tuhan akan kasih pengertian itu untukmu. Juga tak melulu memelihara ego sehingga ia tumbuh besar di dirimu. Seperti, kamu memutuskan untuk menunggu tapi tanpa tahu baru saja kamu menyakiti dirimu sendiri untuk kesekian kali. Padahal kamu harusnya sadar, jangan sampai orang yang kamu abaikan sekarang adalah sosok yang kamu cari dan ingini selama ini. Jangan sampai.

Selasa, 26 Januari 2016

Perihal Menunggu



Menunggu. Kata orang itu sesuatu yang pilu. Pengiris harapan menjadi semakin tipis. Penunda temu atas rindu yang menggebu.
Dan kamu tahu? Bagiku tak begitu.
Menunggu adalah satu-satunya jawabanku. Tentangmu, harapanku yang satu.
Jadi ketika seluruh semesta menggugat betapa pahit kata itu, mengumpat betapa menyedihkan apa yang terlihat, hingga berakhir luruh berlutut pada sebuah keinginan untuk berputus asa dan tak lagi berharap banyak, aku hanya tersenyum.
Menunggu adalah satu-satunya cara bagiku. Untuk mengabulkan sebuah cemas yang begitu rapi tersisip di setiap doa. Ya, tentang kamu.
Kubaca lagi betapa tak kuasa dan penuh air mata ketika relativitas waktu membuktikan perannya. Menyendat waktu. Memperlama hitungan detik. Meski sebenarnya segala angka-angka itu berperan sama setiap harinya. Tak berubah kecuali rasa yang mempersepsinya sendiri.
Lagi-lagi aku tersenyum.
Bagiku menunggu adalah teman baikku. Mengajari setiap jengkal kesabaran yang tak memiliki batas akhirnya. Mengajari menutup cemburu dengan rupa-rupa senyum bahagia. Bukan dusta, hanya untuk memperbaiki performa rasa dalam jiwa. Mengajari menerima apa yang tak sanggup diusahakan dengan daya upaya. Mengajari melihat doa berpilin, melayang menuju angkasa, menemui Tuhannya.
Menunggu, adalah sebuah kata yang aku suka untuk pelipur lara.

Kamis, 14 Januari 2016

Sayang, Kau Harus Tau!


Segala hal yang kita cintai akan pergi nantinya. Segala yang kita kagumi akan terganti nantinya. Segala yang kita tunggu kedatangannya adahal hal yang sekaligus datang dengan kepergiannya. Sayang, kadang kita hanya bersiap pada hal yang membuat kita bahagia, lupa bahwa bersama bahagia kesedihan akan mengikuti, begitulah kesempurnaan katanya.
Dunia, 
Begitulah ia, tempat bersinggah yang hanya sementara. Begitupun pertemuan kau dan aku. Hingga aku merasa perlu mengingat kau dengan baik, membuat kau merasa bahagia dengan berada di sampingku. Karena esok kita tak pernah tau bagaimana jalan yang akan kita lalui, kita tak pernah tau pertemuan mana yang merupakan pertemuan kita yang paling akhir.
Yang kita tau adalah Tuhan akan bertanya bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang datang pada hidup kita. Bersyukurkah kita pada orang-orang yang kita sayangi, ataukah kita ingkar pada-Nya tentang nikmat bertemu dengan orang-orang saleh.
Bila setiap yang datang pada kita adalah kepergian, mari kita bersiap. Karena bertemu denganmu, adalah selangkah menuju perpisahan denganmu. Lalu semoga Tuhan mengekalkan kita selalu bertemu, disana.

BILA


Bila suatu masa, datang jawaban dari doaku yang kupinta pada Tuhan setiap malam. Entah bagaimana hati ini bisa berlapang dada bila bukan dari Tuhan, suatu masa yang aku enggan bayangkan hari ini, terlalu takut bahkan untuk sekedar menebak-nebak, katanya suatu masa itu hanya butuh doa dan kesabaran.

Tuhan, yang paling tau si(apa) yang aku pinta pada doaku. Namun bukankah Tuhan pula yang paling tau apa yang paling baik untuk aku. Lalu, apa yang bisa aku lakukan lagi selain berdoa dan berharap pada Tuhan tentang doa yang terkabul.

Bila suatu masa itu adalah kau, sungguh semesta telah mendengar apa yang menjadi ingin kita lalu Tuhan telah merestuinya. Mungkin senyumku akan terus mengembang selama bersama kau, bagaimana tidak? bahagia adalah ketika Tuhan merestui si(apa) yang kita pinta bukan?

Bila pada suatu masa itu, nyatanya bukan kau yang datang padaku. Ketahuilah bahwa aku pernah mendoakan kebahagiaan untukmu, ketahuilah aku pernah memintakan yang terbaik untuk engkau, ketahuilah aku pernah menceritakan kau pada Tuhan.

Bila suatu masa itu nyatanya bukan kau yang datang mengetuk pintu rumahku. Sudah kuminta pada Tuhan untuk memberikan segala hal yang paling baik, mendekatkannya pada masing-masing kita. Tak harus bersedih karena bukan kau, karena doaku yang lainnya telah Tuhan kabulkan.

Bila suatu masa itu nyatanya bukan kau, tetap saja doaku terkabul tanpa kata tapi.

Senin, 11 Januari 2016

Pulang




Mungkin, kita adalah amin yang terputus di tengah-tengah doa. Itulah mengapa kita tak pernah benar-benar sampai pada pencipta semesta, hanya sebatas berlari dan duduk sejenak karena lelah dan terbata.
Hari ini, aku kembali membuktikan bahwa lelah itu tak hanya sekedar butuh istirahat kemudian melanjutkan perjalanan. Aku sudah terduduk, memandang ke jalanan yang harus kita lewati tapi tak mendapati apa-apa untuk diperjuangkan. Sementara kamu, sudah lama mengambil jalan yang entah, aku memang sudah cukup lama menolak untuk berjalan beriringan. Apa yang dulu kita sebut sebagai tujuan, nyatanya kini hanya menjadi ingatan yang tak lebih dari debu-debu yang menempel di dinding pikiran, menunggu waktu untuk berterbangan.
Bukankah sebenarnya kita mencoba saling pergi? Tapi selalu saja tertahan disini. Aku yang terlalu lemah mendorongmu berjalan menjauh atau kamu yang terlalu kuat berpegang pada kukuh bahu tabahku. Entahlah.
Pergi bukan hanya sekedar mengambil langkah berjauhan, Sayang.
Pergi adalah ketika kita saling memunggungi dan memutuskan tidak berhadap-hadapan lagi untuk alasan apapun. Sedang kau, masih saja bersakit-sakit di tempatmu sembari memikirkan alasan apa yang paling tepat untuk menahanku tetap disini.
Pergi adalah perelaan, adalah keinginan untuk tidak saling menyakiti demi hati yang harus diselamatkan; hatiku, hatimu. Hati kita.
Pergi adalah ketika kita memutuskan untuk berhenti dan menjemput bahagia kita sendiri walaupun harus berjalan sendiri-sendiri.
Jika kau belum mampu menerima kepergian yang harus kita jalani, mungkin kau hanya perlu memandang punggungku yang sudah lama menjauhimu, membaca puisi-puisiku yang tidak lagi lahir dari rahimmu, mengingat kembali jalan-jalan yang telah kita lalui hingga berakhir di persimpangan dimana kita harus berjalan berlawanan, mencoba memahami; terkadang kita harus tinggal atau bahkan pergi demi menyelamatkan sebuah hati, atau dua hati.
            Sebab pergi adalah jalan menuju pulang, Sayang.