Menunggu. Kata orang itu sesuatu yang pilu. Pengiris harapan menjadi semakin tipis. Penunda temu atas rindu yang menggebu.
Dan kamu tahu? Bagiku tak begitu.
Menunggu adalah satu-satunya jawabanku. Tentangmu, harapanku yang satu.
Jadi ketika seluruh semesta menggugat betapa pahit kata itu, mengumpat betapa menyedihkan apa yang terlihat, hingga berakhir luruh berlutut pada sebuah keinginan untuk berputus asa dan tak lagi berharap banyak, aku hanya tersenyum.
Menunggu adalah satu-satunya cara bagiku. Untuk mengabulkan sebuah cemas yang begitu rapi tersisip di setiap doa. Ya, tentang kamu.
Kubaca lagi betapa tak kuasa dan penuh air mata ketika relativitas waktu membuktikan perannya. Menyendat waktu. Memperlama hitungan detik. Meski sebenarnya segala angka-angka itu berperan sama setiap harinya. Tak berubah kecuali rasa yang mempersepsinya sendiri.
Lagi-lagi aku tersenyum.
Bagiku menunggu adalah teman baikku. Mengajari setiap jengkal kesabaran yang tak memiliki batas akhirnya. Mengajari menutup cemburu dengan rupa-rupa senyum bahagia. Bukan dusta, hanya untuk memperbaiki performa rasa dalam jiwa. Mengajari menerima apa yang tak sanggup diusahakan dengan daya upaya. Mengajari melihat doa berpilin, melayang menuju angkasa, menemui Tuhannya.
Menunggu, adalah sebuah kata yang aku suka untuk pelipur lara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar