Kamis, 07 Januari 2016

Kamu Itu Berharga



Ketika hati tak bisa bicara. Ketika mulut dibungkam untuk berkata. Ketika airmata habis untuk menjelaskan. Hanya sepasang tangan, dengan sepuluh jarinya bermandikan aksesori indah yang bisa menuturkan.
Meninggalkan setiap masalah bukanlah hal yang tepat. Tapi demi sebuah pengalaman, apa salahnya? Sementara meninggalkan masalah, sempat terlintas dan berhenti untuk meninggalkan musibah. Musibah penting yang selalu menjadi alasan dan dorongan. Mungkin terdengar konyol atau sedikit mengada-ada. Tapi, apa salahnya jika mencoba dan memaksa? Itu bukan karakter yang sebenarnya, tapi Dia pun tahu kalau itulah yang dinamakan oleh perubahan. Perubahan tak semudah yang terbayang dan tak sesulit yang dibayang. Ketika niat mulai bergelora, apa salahnya untuk mencari? Mencari alasan yang pantas dan tak seorang pun yang dapat mengelak. Sering terpikir mengapa Dia menciptakan manusia sebegitu liciknya. Bukankah hati nurani dan pengorbanan meliputi semua itu? Mengapa tak pernah ada keikhlasan dan pengakuan untuk sebuah kesempurnaan? Kesempurnaan yang tidak sempurna.
Ketika fajar menyambut, sebuah tugas terakhir menunggu dan harus diselesaikan. Gampang meski bukan gampangan. Sebuah pengalaman berharga yang pernah dirasakan anak manusia. Bukan. Tidak semua anak manusia. Hanya mereka yang menjadi lambang keemasan dari Kerajaan Allah. Terpilih karena memilih. Memilih karena terpilih. Mengalah karena menang. Menang karena mengalah. Tuhan adil bukan?
Jiwa itu diri sendiri. Jiwa itu tak pernah memilih. Jiwa itu ada karena terpilih. Mengapa manusia mencoba untuk memilih sedangkan jiwa itu bukan terpilih? Sudah terkatakan, Dia memang adil. Ketika keadilan bergelora, datanglah para mereka yang mencoba untuk merusak dunia gelora. Dunia gelora yang tak bisa didapatkan seseorang. Dia manis bukan?
Meninggalkan terasa sulit. Ditinggalkan merasa sedih. Tertinggal itu musibah. Mengapa harus musibah kembali? Ketika tak ada lagi alasan untuk bertahan, mengapa semuanya terasa tidak adil? Mengapa itu selalu terasa tak adil disaat keadilan sedang beraksi? Berapa banyak kesakitan yang harus dipaksakan? Dan berapa banyak kepedihan yang harus diperjuangkan? Bukankah kesabaran hanya membuahkan kepahitan? Lalu, untuk apa?
Ayo bergegas. Fajar esok menunggumu untuk terbang. Disana! Disana tempatmu. Tak ada yang bisa merebut dan merangkulnya. Siapapun dia. Sesempurna apapun dia. Dia sempurna dan kau yang akan menyempurnakannya. Lupakan segala perbedaan yang tak akan pernah menjadi sebuah keutuhan. Bukankah masih tersedia beribu mimpi untuk kau bertahan? Ingat, engkau terlalu berharga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar