Setiap perjalanan yang panjang selalu akan sampai pada tujuan. Bukankah selalu begitu?
Dan bagaimanapun aku telah berjalan, bukankah akan tetap pulang?
Detik yang menjadi menit, meter yang menjadi kilo, adalah proses yang kunamai kepergian, atau liburan. Entahlah aku tak hendak menamainya apa.
Yang kutahu banyak yang terjadi di selanya dan yang harus kubawa pulang setelahnya.
Hampir seribu jabat tangan dan ratusan potret-potret senyumku selama perjalanan yang masih kusimpan.
Perjalanan kereta; rintik hujan dan terik matahari; suhu rendah hingga tinggi; berjalan kaki; menemui fajar dan senja di tempat yang berbeda. Mereka menamainya perjalanan mencari bahagia. Bagiku, ini sementara. Pada akhirnya aku akan merindukan rumah, tempat aku bahagia tanpa mencarinya. Kamu.
Ada banyak alasan untuk melakukan perjalanan, menikmati kota-kota sebelum usiaku menua, merasakan tinggi gunung dan dalam laut sebelum waktuku melarut.
Dan satu lagi alasan yang selalu kunafikan, adalah menghindari untuk mengingat senyummu, menghindari untuk mencandui ucapan selamat pagi dan malammu. Menghindari untuk tetap menjatuhcintaimu seperti dulu, menghindari untuk tidak berhenti mengkhayalkan kamu.
Satu hari di perjalanan, aku bertemu denganmu di sekelebatan kenang. Seketika ingatan tentangmu datang menjadi hujan, aku kedinginan. Meraih-raih kehangatan dengan melupakan. Lalu aku diam, sudah ke mana rindu dan cintaku yang dulu?
Aku membunuhnya dengan diam, dengan tak membicarakannya lagi pada malam.
Aku mengeringkan air mata dengan menangis sejadi-jadinya suatu waktu.
Menghabiskan rindu dengan terpaksa mencabik-cabik sendiri hatiku.
Kehilangan adalah soal ingatan, aku tak pernah kehilangan kamu di ingatan, meski nyatanya kamu sudah tak ada sejak lama.
Mencintaimu nyatanya tak butuh dibuat mengerti, aku mati sendiri pada misteri yang tak perlu dicari.
Mencintaimu, aku pernah. Hingga tak mau tahu pada situasi yang harusnya dimengerti.
Aku pernah, menghujankan air mata pada telepon genggam. Pernah mengutuki keadaan karena rinduku ingin dimenangkan.
Aku pernah, mencintaimu dengan terlalu, menginginkanmu dengan menggebu.
Aku sedang menghindari yang pernah terjadi dulu.
Tapi, bukankah setiap perjalanan yang panjang selalu akan sampai pada tujuan?
Dan bagaimanapun aku telah berjalan, bukankah akan tetap pulang?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar