Cukup lama berada dalam jarak yang tak terhitung. Karena memilih diam adalah bentuk keberanian dalam mengambil keputusan. Entah, apakah semesta berputar untuk mendekatkan kita atau justru sebaliknya. Yang kutahu, aku terima saja. Sudah sedemikian kupasrahkan segala kepada-Nya.
Jika kita bertemu, biarlah seperti angin senja yang menyapa tanpa suara. Aku ada hanya untuk kaurasa, bukan untuk kau lihat atau pun kau dengar. Jika kau mengharap lebih dari itu, maka musnahlah aku menjadi sesuatu yang tak bisa kau rasakan.
Jika kita bertemu, biarlah pandangan kita tertunduk menjaga. Karena kita selalu berdoa agar mata ini digunakan untuk melihat segala sesuatu yang halal semata. Sementara kita, bukan termasuk apa-apa dalam bagian halal tersebut.
Jika kita bertemu, takkan ada yang mampu kuucapkan. Lidah ini–seperti biasanya–akan terasa kelu di hadapanmu. Gerak-gerikku akan terbaca lain jika berada di dekatmu. Maka, biarlah satu sama lain tak perlu menyadari, meskipun menyembunyikan debar adalah dusta yang nyata.
Tere Liye pernah mengatakan, “Dikatakan atau pun tidak, itu tetap cinta.”
Mungkin, seperti itulah kita dalam keberanian memilih. menghindari pertemuan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar