Jumat, 29 Januari 2016

Perihal Menunggu II



Bila memang kita sedang menunggu ia yang katanya terbaik untukmu, biarlah kita menunggu dengan sebaik-baiknya menunggu. Dengan mencari sebanyak-banyak ilmu tentang hakikat menunggu, memahami sebanyak-banyaknya nasihat tentang yang baik bagi yang baik. Melapangkan dada selapang-lapangnya tentang siapapun yang didatangkan Tuhan pada kita.
Bila memang kita sedang menunggu dia yang katanya akan menyayangimu sepanjang hidupnya. Mari kita mencari-cari perhatian Tuhan, bukan mencari perhatian dari selain Tuhan. Biar Tuhan tau bahwa kita sedang menjadi yang baik, biar Tuhan amat yakin bahwa kita sedang berjuang untuk hamba-Nya yang baik.
Bila memang kita sedang menunggu ia yang akan setia memayungi kita kala hujan dan terik datang. Biarlah kita selalu terjaga, terjaga untuk selalu berdoa pada Tuhan agar kita segera diselamatkan Tuhan dari jatuh yang terlalu pada orang yang salah, diselamatkan Tuhan dari percaya yang terlalu pada kata-kata yang tak pernah ditepati, diselamatkan Tuhan dari patah yang sampai membuat kita lupa pada Tuhan.
Bila memang kita sedang menunggu yang baik, biarlah kita menjadi baik bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk Tuhan, agar Tuhan tersenyum bahagia saat mendatangkan yang baik pada kita.

Dua Pilihan



Pada akhirnya kita memang dihadapkan pada dua pilihan, menunggu atau pergi berlalu?
Tak terkecuali saya, situasi di mana kita harus jeli untuk lebih memilih hati atau pikiran bahkan memilih untuk menyeimbangkan keduanya.
Ada satu hal yang membuat kita memilih untuk menunggu, biasanya karena seseorang yang kita cinta, seseorang yang sama kamu rindukan tiap harinya. Satu hal yang lainnya adalah hati. Hatimu apa kabar? Akankah terus baik-baik saja saat kau memutuskan untuk menunggu? Saya pikir hati takkan pernah baik-baik saja saat keputusan itu diambil, entah dalam waktu lama atau sebentar. Karena banyak alasan, pernah tahu mencintai dengan diam? Mencintai dari jauh? Mencintai karena alasan-alasan tak tentu? Memang, takkan pernah ada satu alasan pun kenapa mesti cinta.
Pergi berlalu pun seperti menunggu, hati terpaksa merawat sendiri lukanya. Dengan merelakan segala yang pernah kita anggap sebuah pertemuan menjadi sebuah kehilangan yang percuma. Karena tak sekali pun ada rasa yang demikin juga dirasa olehnya. Bukan begitu? Tapi kau tahu bukan, kalau sebuah kehilangan adalah awal dari menemukan yang lainnya. Sekiranya hatimu sesaat terhempas, sakit memang. Namun pada akhirnya, akan ada seorang dia yang membantu merawat lukamu sampai sembuh, sampai benar-benar sembuh.
Lagi-lagi, mengikutsertakan Tuhan dalam setiap perkara hati memang kunci. Karena kamu bisa lebih tahu mana benar mencintai atau mengagumi. Dengan sendirinya, Tuhan akan kasih pengertian itu untukmu. Juga tak melulu memelihara ego sehingga ia tumbuh besar di dirimu. Seperti, kamu memutuskan untuk menunggu tapi tanpa tahu baru saja kamu menyakiti dirimu sendiri untuk kesekian kali. Padahal kamu harusnya sadar, jangan sampai orang yang kamu abaikan sekarang adalah sosok yang kamu cari dan ingini selama ini. Jangan sampai.

Selasa, 26 Januari 2016

Perihal Menunggu



Menunggu. Kata orang itu sesuatu yang pilu. Pengiris harapan menjadi semakin tipis. Penunda temu atas rindu yang menggebu.
Dan kamu tahu? Bagiku tak begitu.
Menunggu adalah satu-satunya jawabanku. Tentangmu, harapanku yang satu.
Jadi ketika seluruh semesta menggugat betapa pahit kata itu, mengumpat betapa menyedihkan apa yang terlihat, hingga berakhir luruh berlutut pada sebuah keinginan untuk berputus asa dan tak lagi berharap banyak, aku hanya tersenyum.
Menunggu adalah satu-satunya cara bagiku. Untuk mengabulkan sebuah cemas yang begitu rapi tersisip di setiap doa. Ya, tentang kamu.
Kubaca lagi betapa tak kuasa dan penuh air mata ketika relativitas waktu membuktikan perannya. Menyendat waktu. Memperlama hitungan detik. Meski sebenarnya segala angka-angka itu berperan sama setiap harinya. Tak berubah kecuali rasa yang mempersepsinya sendiri.
Lagi-lagi aku tersenyum.
Bagiku menunggu adalah teman baikku. Mengajari setiap jengkal kesabaran yang tak memiliki batas akhirnya. Mengajari menutup cemburu dengan rupa-rupa senyum bahagia. Bukan dusta, hanya untuk memperbaiki performa rasa dalam jiwa. Mengajari menerima apa yang tak sanggup diusahakan dengan daya upaya. Mengajari melihat doa berpilin, melayang menuju angkasa, menemui Tuhannya.
Menunggu, adalah sebuah kata yang aku suka untuk pelipur lara.

Kamis, 14 Januari 2016

Sayang, Kau Harus Tau!


Segala hal yang kita cintai akan pergi nantinya. Segala yang kita kagumi akan terganti nantinya. Segala yang kita tunggu kedatangannya adahal hal yang sekaligus datang dengan kepergiannya. Sayang, kadang kita hanya bersiap pada hal yang membuat kita bahagia, lupa bahwa bersama bahagia kesedihan akan mengikuti, begitulah kesempurnaan katanya.
Dunia, 
Begitulah ia, tempat bersinggah yang hanya sementara. Begitupun pertemuan kau dan aku. Hingga aku merasa perlu mengingat kau dengan baik, membuat kau merasa bahagia dengan berada di sampingku. Karena esok kita tak pernah tau bagaimana jalan yang akan kita lalui, kita tak pernah tau pertemuan mana yang merupakan pertemuan kita yang paling akhir.
Yang kita tau adalah Tuhan akan bertanya bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang datang pada hidup kita. Bersyukurkah kita pada orang-orang yang kita sayangi, ataukah kita ingkar pada-Nya tentang nikmat bertemu dengan orang-orang saleh.
Bila setiap yang datang pada kita adalah kepergian, mari kita bersiap. Karena bertemu denganmu, adalah selangkah menuju perpisahan denganmu. Lalu semoga Tuhan mengekalkan kita selalu bertemu, disana.

BILA


Bila suatu masa, datang jawaban dari doaku yang kupinta pada Tuhan setiap malam. Entah bagaimana hati ini bisa berlapang dada bila bukan dari Tuhan, suatu masa yang aku enggan bayangkan hari ini, terlalu takut bahkan untuk sekedar menebak-nebak, katanya suatu masa itu hanya butuh doa dan kesabaran.

Tuhan, yang paling tau si(apa) yang aku pinta pada doaku. Namun bukankah Tuhan pula yang paling tau apa yang paling baik untuk aku. Lalu, apa yang bisa aku lakukan lagi selain berdoa dan berharap pada Tuhan tentang doa yang terkabul.

Bila suatu masa itu adalah kau, sungguh semesta telah mendengar apa yang menjadi ingin kita lalu Tuhan telah merestuinya. Mungkin senyumku akan terus mengembang selama bersama kau, bagaimana tidak? bahagia adalah ketika Tuhan merestui si(apa) yang kita pinta bukan?

Bila pada suatu masa itu, nyatanya bukan kau yang datang padaku. Ketahuilah bahwa aku pernah mendoakan kebahagiaan untukmu, ketahuilah aku pernah memintakan yang terbaik untuk engkau, ketahuilah aku pernah menceritakan kau pada Tuhan.

Bila suatu masa itu nyatanya bukan kau yang datang mengetuk pintu rumahku. Sudah kuminta pada Tuhan untuk memberikan segala hal yang paling baik, mendekatkannya pada masing-masing kita. Tak harus bersedih karena bukan kau, karena doaku yang lainnya telah Tuhan kabulkan.

Bila suatu masa itu nyatanya bukan kau, tetap saja doaku terkabul tanpa kata tapi.

Senin, 11 Januari 2016

Pulang




Mungkin, kita adalah amin yang terputus di tengah-tengah doa. Itulah mengapa kita tak pernah benar-benar sampai pada pencipta semesta, hanya sebatas berlari dan duduk sejenak karena lelah dan terbata.
Hari ini, aku kembali membuktikan bahwa lelah itu tak hanya sekedar butuh istirahat kemudian melanjutkan perjalanan. Aku sudah terduduk, memandang ke jalanan yang harus kita lewati tapi tak mendapati apa-apa untuk diperjuangkan. Sementara kamu, sudah lama mengambil jalan yang entah, aku memang sudah cukup lama menolak untuk berjalan beriringan. Apa yang dulu kita sebut sebagai tujuan, nyatanya kini hanya menjadi ingatan yang tak lebih dari debu-debu yang menempel di dinding pikiran, menunggu waktu untuk berterbangan.
Bukankah sebenarnya kita mencoba saling pergi? Tapi selalu saja tertahan disini. Aku yang terlalu lemah mendorongmu berjalan menjauh atau kamu yang terlalu kuat berpegang pada kukuh bahu tabahku. Entahlah.
Pergi bukan hanya sekedar mengambil langkah berjauhan, Sayang.
Pergi adalah ketika kita saling memunggungi dan memutuskan tidak berhadap-hadapan lagi untuk alasan apapun. Sedang kau, masih saja bersakit-sakit di tempatmu sembari memikirkan alasan apa yang paling tepat untuk menahanku tetap disini.
Pergi adalah perelaan, adalah keinginan untuk tidak saling menyakiti demi hati yang harus diselamatkan; hatiku, hatimu. Hati kita.
Pergi adalah ketika kita memutuskan untuk berhenti dan menjemput bahagia kita sendiri walaupun harus berjalan sendiri-sendiri.
Jika kau belum mampu menerima kepergian yang harus kita jalani, mungkin kau hanya perlu memandang punggungku yang sudah lama menjauhimu, membaca puisi-puisiku yang tidak lagi lahir dari rahimmu, mengingat kembali jalan-jalan yang telah kita lalui hingga berakhir di persimpangan dimana kita harus berjalan berlawanan, mencoba memahami; terkadang kita harus tinggal atau bahkan pergi demi menyelamatkan sebuah hati, atau dua hati.
            Sebab pergi adalah jalan menuju pulang, Sayang.

Tatapanmu



Matamu sepasang hitam pekat yang teduh

Memandangmu, seperti rindang pepohonan ditengah kolam bunga teratai
Aku tercebur, jatuh dan mencintaimu
Dan cinta, berpendar dalam sejuta warna
Yang berkilau disela-sela kedipan matamu

Dan disejuk tatapanmu itu
Au ingin melukis puisi
Karena disana ada warna cinta
Yang menjadikan semuanya indah
Membuat rindu seteduh biru lautan
Yang tak henti menyusun gemuruh
Membuat kecemasan membias kelam seperti langit malam
Menunggu bintang-bintang bersinar
Membuat harapan secerah kuning mentari
Yang hadir ketika membuka jendela pagi
Membuat hijau barisan pohon cemara
Yang mengiringi langkah-langkah kita menapaki perjalanan
Yang membuat merah wajah kita
Setiap kali tak dapat menahan dahsyatnya debaran jantung
Dan sebait pelangi
Menyimpulkan seluruh warna dalam satu lengkung senyummu

Aku pinjam bulu matamu sebagi kuas
Hanya agar semua terlukis
Seperti engkau melihat semuanya
Karena ku tau
Tanganku tak mampu menggoreskan setiap warna selembut tatapanmu
Tidak juga mataku dan tidak juga mulutku


Jika ada yang bertanya kepadaku perihal sesuatu yang menenggelamkanku, membuatku enggan kembali pulang, mengumpat bahwa disana tempat segalaku bersarang; matamu.
Kedipannya pernah menjatuhkanku hingga ke dasar Magma,
Lirikannya pernah menancapkan ribuan anak panah cupid, menandaskan dalam-dalam di palung hati bersenggama dengan rasa sakit,
Basah yang berasal darinya melemahkanku, meruntuhkan peluk agar sesegera mungkin ku antarkan ke dadanya, berharap bisa membuatnya tentram atau sekedar menurunkan kadar nyeri agar sementara padam.
Lelaki,
Bagiku matamu ialah semesta yang patut aku puja, jendela bagi hal yang indah, juga jurang untuk membunuh birahiku yang kerap datang setiap masa.
Tolong, abadikan hal-hal yang baik dariku disana meski bukan aku kelak yang mencipta bahagia di dada.

Sahabat


Kadang - kadang ada sahabat yang suka traktir kita makan, bukan karena mereka sok kaya tapi sebab mereka meletakkan persahabatan melebihi materi. Kadang - kadang ada sahabat yang rajin bekerja, bukan karena mereka mau tunjukkan kepandaian tapi mereka memahami arti sebuah tanggung jawab. Kadang - kadang ada sahabat yang memohon maaf dulu selepas berselisih faham, bukan karena mereka salah tapi sebab mereka menghargai orang di sekeliling mereka.

Kadang - kadang ada sahabat yang sukarela membantu kita, bukan karena mereka berhutang apa-apa tapi sebab mereka lihat kita sebagai seorang sahabat. Kadang-kadang ada sahabat yang selalu berkomunikasi lewat telpon, sms, bbm, whatsapp serta chatting anda, bukan karena mereka tak ada kerja lain yang dilakukan tapi sebab mereka INGAT PADA ANDA.

Satu hari, kita semua akan berpisah sahabat, kita akan teringat berbagai perbuatan dan impian yang kita ada kita lakukan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, hingga hubungan ini menjadi asing.

Satu hari anak keturunan kita akan melihat foto-foto kita dan bertanya,
“Siapa mereka semua ini?”
Dan kita tersenyum dengan air mata yang tidak kelihatan, karena hati ini terusik dengan kata yang sayu, lalu berkata :
“DENGAN MEREKALAH SAYA MELALUI HARI-HARI YANG PALING INDAH DALAM HIDUP SAYA."

Perjalanan



Setiap perjalanan yang panjang selalu akan sampai pada tujuan. Bukankah selalu begitu?
Dan bagaimanapun aku telah berjalan, bukankah akan tetap pulang?
Detik yang menjadi menit, meter yang menjadi kilo, adalah proses yang kunamai kepergian, atau liburan. Entahlah aku tak hendak menamainya apa.
Yang kutahu banyak yang terjadi di selanya dan yang harus kubawa pulang setelahnya.
Hampir seribu jabat tangan dan ratusan potret-potret senyumku selama perjalanan yang masih kusimpan.
Perjalanan kereta; rintik hujan dan terik matahari; suhu rendah hingga tinggi; berjalan kaki; menemui fajar dan senja di tempat yang berbeda. Mereka menamainya perjalanan mencari bahagia. Bagiku, ini sementara. Pada akhirnya aku akan merindukan rumah, tempat aku bahagia tanpa mencarinya. Kamu.
Ada banyak alasan untuk melakukan perjalanan, menikmati kota-kota sebelum usiaku menua, merasakan tinggi gunung dan dalam laut sebelum waktuku melarut.
Dan satu lagi alasan yang selalu kunafikan, adalah menghindari untuk mengingat senyummu, menghindari untuk mencandui ucapan selamat pagi dan malammu. Menghindari untuk tetap menjatuhcintaimu seperti dulu, menghindari untuk tidak berhenti mengkhayalkan kamu.

Satu hari di perjalanan, aku bertemu denganmu di sekelebatan kenang. Seketika ingatan tentangmu datang menjadi hujan, aku kedinginan. Meraih-raih kehangatan dengan melupakan. Lalu aku diam, sudah ke mana rindu dan cintaku yang dulu?
Aku membunuhnya dengan diam, dengan tak membicarakannya lagi pada malam.
Aku mengeringkan air mata dengan menangis sejadi-jadinya suatu waktu.
Menghabiskan rindu dengan terpaksa mencabik-cabik sendiri hatiku.
Kehilangan adalah soal ingatan, aku tak pernah kehilangan kamu di ingatan, meski nyatanya kamu sudah tak ada sejak lama.
Mencintaimu nyatanya tak butuh dibuat mengerti, aku mati sendiri pada misteri yang tak perlu dicari.
Mencintaimu, aku pernah. Hingga tak mau tahu pada situasi yang harusnya dimengerti.
Aku pernah, menghujankan air mata pada telepon genggam. Pernah mengutuki keadaan karena rinduku ingin dimenangkan.
Aku pernah, mencintaimu dengan terlalu, menginginkanmu dengan menggebu.
Aku sedang menghindari yang pernah terjadi dulu.
Tapi, bukankah setiap perjalanan yang panjang selalu akan sampai pada tujuan?
Dan bagaimanapun aku telah berjalan, bukankah akan tetap pulang?

Akhir Jalan


Coba liat protet di atas!
Adakah ujung jalan disana?
Tidak akan ada! Kenapa?
Ujung dari sebuah jalan hanya ada di Lepas Pantai, Tanjung, dsb. Karena itu adalah batas dari daratan dan lautan. Jikapun ada, itu bukanlah 'ujung jalan', melainkan 'jalan buntu'. Jadi selama kita/kendaraan kita bergerak maju, tidak akan kita temukan ujung jalan kecuali sampai di batas antara darat & laut.

Lalu, pernahkah kita bertemu dengan 'Akhir Kehidupan?'
Pasti tidak! Kenapa? Akhir kehidupan hanya anda temui ketika titik nafas terakhir, yaitu kematian. Jikalau bertemu sesuatu yang dianggap 'titik akhir' hidup anda (sakit keras, PHK, putus cinta, dsb). Percayalah, itu bukan akhir dari kehidupan kita. Masih akan ada hari esok untuk kita berbuat baik dan memperbaiki kesalahan di masa lalu.
Selama kita masih bisa bernafas, lakukan hal terbaik yang kita bisa. Kita tidak pernah tahu kapan akhir dari 'jalan hidup' kita selama di dunia.

Sabtu, 09 Januari 2016

Biarkan


Cukup lama berada dalam jarak yang tak terhitung. Karena memilih diam adalah bentuk keberanian dalam mengambil keputusan. Entah, apakah semesta berputar untuk mendekatkan kita atau justru sebaliknya. Yang kutahu, aku terima saja. Sudah sedemikian kupasrahkan segala kepada-Nya.
Jika kita bertemu, biarlah seperti angin senja yang menyapa tanpa suara. Aku ada hanya untuk kaurasa, bukan untuk kau lihat atau pun kau dengar. Jika kau mengharap lebih dari itu, maka musnahlah aku menjadi sesuatu yang tak bisa kau rasakan.
Jika kita bertemu, biarlah pandangan kita tertunduk menjaga. Karena kita selalu berdoa agar mata ini digunakan untuk melihat segala sesuatu yang halal semata. Sementara kita, bukan termasuk apa-apa dalam bagian halal tersebut.
Jika kita bertemu, takkan ada yang mampu kuucapkan. Lidah ini–seperti biasanya–akan terasa kelu di hadapanmu. Gerak-gerikku akan terbaca lain jika berada di dekatmu. Maka, biarlah satu sama lain tak perlu menyadari, meskipun menyembunyikan debar adalah dusta yang nyata.
Tere Liye pernah mengatakan, “Dikatakan atau pun tidak, itu tetap cinta.”
Mungkin, seperti itulah kita dalam keberanian memilih. menghindari pertemuan.

Pagi


Pagi adalah setangkup halimun
Yang bercerita tentang sejuk
Menyibak gundah gulana
Ditirai kalbu yang kerontang

Pagi adalah sepenggal waktu
Yang bertutur tentang harapan
Bagi sang kelana
Untuk mengarungi sepenggal perjalanan

Pagi adalah seriuh angin
Yang menerpa kicau burung
Di mana embun menyematkan
Senandung bayu di ujung asa dan rasa

Pagi adalah kemilau mentari di ufuk timur
Yang menyeruak di antara cita dan cinta
Membisikkan aksara rayuan
Membelah gulana jiwa

Pagi adalah pendar sempurna
Cahaya terang langit
Yang menyenandungkan
Tembang harapan asmara
Bagi insan dimabuk kasmaran

Pagi adalah rindu yang mengapit
Dua jiwa dalam satu bingkai kasih
Meretas bayang fatamorgana
Dibalik dimensi sekat ruang dan waktu

Pagi adalah aksara yang berkilau
Di hamparan cakrawala puisi nan terang
Menyejukkan sekuntum gundah
Yang sempat melanda dalam dada

Pagi adalah tarian jiwa
Di permadani kosa kata
Mengekspresikan segala bentuk rasa dan asa
Diatas panggung cerita dunia

Pagi adalah sesungging senyuman
Yang mengerling di penghujung batas penantian
Meretas kebekuan yang membekam
Diantara sudut-sudut kelam

Menunggu


Menunggu tanpa kejelasan adalah bentuk lain dari kematian. Ketika ada yang mendedikasikan segenap waktunya untuk sesuatu/seseorang yang ia tunggu, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam selang waktu itu ia telah menggugurkan banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa datang padanya jika saja ia memilih untuk beranjak–namun sayangnya tidak. Ia masih berdiam, menunggui dengan segenap harapan, meskipun tiada kejelasan. Padahal ia tahu pasti bahwa waktu yang telah dikorbankannya tak akan pernah kembali, tak akan jadi miliknya lagi. Maka demikianlah pula ia akan menabung sedikit demi sedikit sebuah ‘kesia-siaan’, menimbuni diri sendiri dengan penyesalan yang akan datang kemudian; tentang waktu yang terbuang. Lantas apa bedanya dengan orang yang nyawanya sudah meregang? Tiada akan ia memiliki kehidupannya lagi. Dan kita semua, tiada lain adalah orang-orang yang sedang diuji oleh waktu. Selamat menunggu, kamu.

Jumat, 08 Januari 2016

Sang Daun


Daun yang jatuh tak pernah menyalahkan angin tapi apa itu yang sebenarnya yang terjadi?
Mungkin saja daun yang jatuh itu sangat terkejut ketika tangannya terlepas begitu saja saat sedang merasakan sejuknya angin yang berhembus. Berpikir apakah tangkai sengaja melepaskan pegangannya yang selama ini terasa erat mencengkram daun agar dia tak jatuh. Atau apakah sang angin yang dia kira menawarkan kesejukan itu diam-diam telah lama berencana untuk membuatnya terpisah dari dekapan tangkai. Pikiran daun yang jatuh semakin membuat dadanya sesak dan disaat terombang-ambing, sekelilingnya justru mulai menghakimi bahwa daun yang meninggalkan tangkai dan sang pohon. Melepas kenyamanan yang telah diberikan dari sang pohon. Tak tau rasa terima kasih, begitu hujatan yang daun terima. Daunpun semakin bersedih.
Dalam hatinya, dia tak pernah berpikir sekalipun untuk meninggalkan tangkai dan sang pohon. Memberikan seluruh kepercayaannya pada tangkai saat hujan angin menerpa. Melindungi sang pohon dari teriknya matahari yang menyinari. Sebagai rasa sayangnya, daun sengaja menghadapkan dirinya kepada sinar sang matahari, mengambil simpanan mineral dari akar lalu memasaknya dan membagikannya untuk tangkai, akar, dan sang pohon. Daun senang dapat melakukan itu, membuatnya berguna untuk mereka semua. Walau kadang jika simpanan mineralnya habis, tubuhnya lemas tak bertenaga. Tangkai dengan erat memegang lengan daun sampai akar kembali dari perjuangannya menembus lapisan tanah demi kesembuhan daun.
Kemudian sampai akhirnya daun jatuh terombang-ambing lalu berakhir di tanah. Tapi apa kamu tau apa doa terakhir daun yang jatuh? Dalam doa terakhirnya dia meminta semoga Tuhan membuatnya terjatuh tepat diatas akar dan disamping sang pohon agar jika telah tiba waktunya untuk dia pergi selama-lamanya, akar dapat mengambil manfaat dari tubuhnya yang telah bercampur tanah itu

Ruang



Pernah tidak kita merasakan sedih setelah bahagia? atau sebaliknya, merasakan bahagia setelah sedih, pada satu waktu?
Aku merasa setiap orang pernah mengalami hal semacam ini. Mengalami kondisi terbalik dari kondisi awal yang dia alami, dan sering kali kondisi baru tersebut malah merusak atau mungkin malah menghilangkan rasa yang ada pada kondisi sebelumnya. 
Begini, misalnya ada seseorang yang berhasil meraih sesuatu impian yang diharapkannya selama ini, kemudian dia bersenang-senang, berbahagia dan menganggap itulah hari terbaik untuknya. Namun, ditengah euforia tersebut Tuhan mengirimkan sebuah kondisi buruk untuk orang tersebut. Singkatnya, dia akhirnya kecewa mendalam, sedih dan sebagainya karena hal buruk itu menimpa saat dia bahagia-bahagianya.
Well, cuman ingin berbagi pikiran. Mungkin saja, kekecewaan (atau semacamnya) dapat terjadi karena kita tidak memiliki ‘ruang’ untuk hal yang lain. Maksudnya, ketika kita berbahagia dan mengisi seluruh perasaan kita dengan kebahagiaan tersebut, lalu kita tidak memberikan ‘ruang’ untuk hal yang lain, kemungkinan untuk kecewa, sedih, terpuruk ataupun lainnya jauh lebih besar dibandingkan jika kita telah siap dan memberikan ‘ruang’ untuk hal yang lain. Sama halnya ketika kita bersedih, disaat kesedihan memenuhi seluruh perasaan, kita akan susah untuk bangkit, karena kita tidak memiliki ‘ruang’ itu, kita terlalu larut dalam kesedihan yang kita alami.
"Sepertinya ini mulai sulit untuk dipahami"
Emm. Pada akhirnya kita akan selalu membutuhkan yang namanya ‘ruang’.  Termasuk didalam kondisi sulit sekalipun.
‘Ruang’ untuk sedih dikala bahagia
'Ruang’ untuk kecewa dikala berharap
‘Ruang’ untuk jatuh dikala berjuang
'Ruang’ untuk bangkit dikala jatuh
‘Ruang’ untuk bahagia dikala sedih
‘Ruang’ untuk percaya dikala kecewa
dan berbagai macam ‘ruang’ untuk kondisi-kondisi yang kita rasakan. ‘Ruang’ ini akan berguna untuk menjaga kita agar kita tidak terlena ataupun terpuruk dalam satu kondisi. ‘Ruang’ ini jugalah yang akan menjadikan diri kita ikhlas dan menerima setiap ketentuan yang telah diberikan olehNya.

MELANGKAH


Pelan-pelan, dengan hati-hati aku melangkah. Membersihkan kepingan yg pecah. Membenahi kaca yg rusak. Aku berhak untuk berbenah dengan riang, juga boleh untuk menangis bila terkena serpihannya. Menyapu kaca yg berderai dengan banyak pecahan kecil itu berbahaya, tapi kalau serpihannya terus dibiarkan ada di lantai, lantas bagaimana aku dapat melangkah di kamar ku sendiri? Bagaimana bisa ku letakkan sajadah di sana? Bagaimana pula aku bisa nyaman dengan keadaan yg membuat ku hanya bisa mematung terduduk di atas kasur dan sekedar mengamati semua kekacauan? Tidak mungkin bukan. Aku harus bersikap. Berani dengan taktik dan kecerdasan akal. Berjalan di lantai, meski tau bisa saja aku terluka. Dan iya aku memang terluka saat aku memulai sapuan pertamaku.

Rasanya perih dan membuat darah ku mengalir cukup banyak. Kecil padahal, tapi serpihan itu tidak sekedar menggores tapi menusuk kulitku, ia ada di dalam kulitku. Sakit dan pilu. Kenapa aku harus sendirian? Tidak adakah teman yg akan menolong ku membersihkan ini? Tapi ini kamar ku, tempat private ku, lantas memang siapa yg berani masuk ataupun berniat? Kalau mereka bukan orang terdekat maka mereka adalah hero ku. Tapi sekalipun sendiri, aku tahu sebenarnya Rabb tidak pernah meninggalkanku. Jadi hakikatnya, aku tidak sendiri.

Pecahan kaca ini membuatku berhenti sejenak. Aku sedang berusaha mengeluarkan kaca bening di kaki yg telah menyebabkan banyak darah bercucuran. Perih, sakit, dan air mata ku menggenang. Ini baru langkah pertama ku, tapi sudah terluka begini. Tapi aku tau, langkah ini tidak boleh berhenti, karena aku menginginkan keleluasaan di kamar ku sendiri. Aku tidak ingin duduk diam dan menjadi pasif lalu biasa saja. Aku ingin bergerak di kamar ku, menebar kreatifitasku sendiri, sehingga aku bisa tersenyum puas pada apa yg sudah ku lakukan. Ini hanya pecahan kaca yg kecil. Kalau begini aku menyerah pada ini, maka kamar ini tidak akan pernah bersih dan aku tidak akan pernah bahagia.

Sakit demi bahagia, kenapa tidak? Bukankah tidak ada usaha yg sia-sia.

Menggigil



Dingin merambah tubuh
Lidah kelu terjegal kaku
Biru menghias tubuh yang kian pilu
Malaikat datang menjemput kita

Nafas yang tak pernah kita syukuri
Kini tertahan tanpa kita hindari
Detak jantung yang kita anggap biasa
Kini menjadi sangat berharga di tiap detakannya

Lembayung wajah kematian kian mendekat
Suara tangis bergema menyesakkan dada
Namun tiadalah kita mendengarnya
Karena telinga tak lagi ada suara

Masih ingatkah tentang tangan yang berdosa
Sebentar lagi akan menjadi sepotong tulang tak berharga
Masih ingatkan tentang wajah yang kita banggakan
Sesaat lagi akan terkubur dalam tanah

Masih ingatkah akan harta yang kita jadikan raja
Sebentar lagi akan mengalun indah menjadi petaka
Malaikat tidak tidur
Kematian mengintai hidup

Untuk apa?

Pakaian indah nan penuh hias
Kini bersisa kain kafan
Harta yang di agungkan
Hanya tinggal barang bekas tak berguna

Saat kematian datang menjemput
Tiada pangkat, tiada jabatan
Tiada kaya, tiada miskin
Tiada pula cantik atau rupawan
Malaikat maut tetap mencabut nyawa kita

Ingatkah pada kubur
Tempat saat tubuh di pendam
Di tinggal sendiri dalam gelap
Ditemani bintang malam dan kesunyian

Ingatkan bahwa kita akan di kubur
Saat dimana belatung memakan tubuh kita
Harta, dunia, dan seisinya tak lagi guna
Tinggal menunggu adzab dalam penyesalan

Kamis, 07 Januari 2016

Kamu Itu Berharga



Ketika hati tak bisa bicara. Ketika mulut dibungkam untuk berkata. Ketika airmata habis untuk menjelaskan. Hanya sepasang tangan, dengan sepuluh jarinya bermandikan aksesori indah yang bisa menuturkan.
Meninggalkan setiap masalah bukanlah hal yang tepat. Tapi demi sebuah pengalaman, apa salahnya? Sementara meninggalkan masalah, sempat terlintas dan berhenti untuk meninggalkan musibah. Musibah penting yang selalu menjadi alasan dan dorongan. Mungkin terdengar konyol atau sedikit mengada-ada. Tapi, apa salahnya jika mencoba dan memaksa? Itu bukan karakter yang sebenarnya, tapi Dia pun tahu kalau itulah yang dinamakan oleh perubahan. Perubahan tak semudah yang terbayang dan tak sesulit yang dibayang. Ketika niat mulai bergelora, apa salahnya untuk mencari? Mencari alasan yang pantas dan tak seorang pun yang dapat mengelak. Sering terpikir mengapa Dia menciptakan manusia sebegitu liciknya. Bukankah hati nurani dan pengorbanan meliputi semua itu? Mengapa tak pernah ada keikhlasan dan pengakuan untuk sebuah kesempurnaan? Kesempurnaan yang tidak sempurna.
Ketika fajar menyambut, sebuah tugas terakhir menunggu dan harus diselesaikan. Gampang meski bukan gampangan. Sebuah pengalaman berharga yang pernah dirasakan anak manusia. Bukan. Tidak semua anak manusia. Hanya mereka yang menjadi lambang keemasan dari Kerajaan Allah. Terpilih karena memilih. Memilih karena terpilih. Mengalah karena menang. Menang karena mengalah. Tuhan adil bukan?
Jiwa itu diri sendiri. Jiwa itu tak pernah memilih. Jiwa itu ada karena terpilih. Mengapa manusia mencoba untuk memilih sedangkan jiwa itu bukan terpilih? Sudah terkatakan, Dia memang adil. Ketika keadilan bergelora, datanglah para mereka yang mencoba untuk merusak dunia gelora. Dunia gelora yang tak bisa didapatkan seseorang. Dia manis bukan?
Meninggalkan terasa sulit. Ditinggalkan merasa sedih. Tertinggal itu musibah. Mengapa harus musibah kembali? Ketika tak ada lagi alasan untuk bertahan, mengapa semuanya terasa tidak adil? Mengapa itu selalu terasa tak adil disaat keadilan sedang beraksi? Berapa banyak kesakitan yang harus dipaksakan? Dan berapa banyak kepedihan yang harus diperjuangkan? Bukankah kesabaran hanya membuahkan kepahitan? Lalu, untuk apa?
Ayo bergegas. Fajar esok menunggumu untuk terbang. Disana! Disana tempatmu. Tak ada yang bisa merebut dan merangkulnya. Siapapun dia. Sesempurna apapun dia. Dia sempurna dan kau yang akan menyempurnakannya. Lupakan segala perbedaan yang tak akan pernah menjadi sebuah keutuhan. Bukankah masih tersedia beribu mimpi untuk kau bertahan? Ingat, engkau terlalu berharga.

Selasa, 05 Januari 2016

Timphan


Timphan adalah kue khas Aceh yang biasanya isinya kelapa dan srikaya, asoe kaya, dan dibungkus oleh daun pisang. Timphan sangat terkenal di Aceh serta menjadi kue yang wajib dihidangkan pada perayaan hari besar terutama pada Lebaran. Setiap rumah penduduk, dari yg kaya hingga miskin, dari masyarakat kota hingga desa, pasti menghidangkan kue yang satu ini. Fenomena yang menarik adalah hampir semuawanita Aceh bisa membuatnya. Saking terkenalnya Timphan ini di Aceh, sehingga banyak ungkapan dengan kata Timphan diantaranya yaitu "Uroe goet buluen goet Timphan ma peugoet beumeuteme rasa" (Hari baik bulan baik Timphan ibu buat harus dapat kurasakan). Thimpan adalah kue istimewa dalam kehidupan masyarakat Aceh, khususnya di Sigli, Kota Banda Aceh, Lhokseumawe, Langsa, Bireun, dan lainnya setiap Hari Lebaran.

Biasanya thimpan untuk lebaran dimasak pada malam takbiran pertama oleh para ibu dibantu remaja puteri di daerah-daerah tersebut. Tanpa thimpan srikaya ataupun kelapa pada hari raya, lebaran terasa kurang lengkap meskipun sudah ada aneka penganan lain.

Timphan merupakan kue dan hidangan khas Aceh pada acara-acara penting di dalam kebudayaan Aceh. Timphan sering dibuat khusus untuk hari lebaran, pesta pernikahan yang merupakan hidangan pembuka utama bagi tamu yang hadir pada khanduri dalam kebudayaan Aceh.
Bahan baku thimpan terdiri atas tepung ketan, pisang raja, gula, telur ayam kampung, kelapa, minyak goreng, dan pucuk daun pisang sebagai pembungkus. Kendati harga telur ayam kampung lebih mahal, para ibu lebih memilih menggunakannya dibanding telur ayam buras. Karena rasanya jauh lebih enak.

Thimpan yang biasanya ditempatkan di nampan lebar atau piring-piring ceper, menjadi hantaran wajib ke rumah mertua saat berlebaran. Bila sudah begini, rasanya tak berlebihan bila banyak orang yang bilang thimpan itu kue Aceh paling istimewa untuk lebaran
.