Daun yang jatuh tak pernah menyalahkan angin tapi apa itu yang sebenarnya yang terjadi?
Mungkin saja daun yang jatuh itu sangat terkejut ketika tangannya terlepas begitu saja saat sedang merasakan sejuknya angin yang berhembus. Berpikir apakah tangkai sengaja melepaskan pegangannya yang selama ini terasa erat mencengkram daun agar dia tak jatuh. Atau apakah sang angin yang dia kira menawarkan kesejukan itu diam-diam telah lama berencana untuk membuatnya terpisah dari dekapan tangkai. Pikiran daun yang jatuh semakin membuat dadanya sesak dan disaat terombang-ambing, sekelilingnya justru mulai menghakimi bahwa daun yang meninggalkan tangkai dan sang pohon. Melepas kenyamanan yang telah diberikan dari sang pohon. Tak tau rasa terima kasih, begitu hujatan yang daun terima. Daunpun semakin bersedih.
Dalam hatinya, dia tak pernah berpikir sekalipun untuk meninggalkan tangkai dan sang pohon. Memberikan seluruh kepercayaannya pada tangkai saat hujan angin menerpa. Melindungi sang pohon dari teriknya matahari yang menyinari. Sebagai rasa sayangnya, daun sengaja menghadapkan dirinya kepada sinar sang matahari, mengambil simpanan mineral dari akar lalu memasaknya dan membagikannya untuk tangkai, akar, dan sang pohon. Daun senang dapat melakukan itu, membuatnya berguna untuk mereka semua. Walau kadang jika simpanan mineralnya habis, tubuhnya lemas tak bertenaga. Tangkai dengan erat memegang lengan daun sampai akar kembali dari perjuangannya menembus lapisan tanah demi kesembuhan daun.
Kemudian sampai akhirnya daun jatuh terombang-ambing lalu berakhir di tanah. Tapi apa kamu tau apa doa terakhir daun yang jatuh? Dalam doa terakhirnya dia meminta semoga Tuhan membuatnya terjatuh tepat diatas akar dan disamping sang pohon agar jika telah tiba waktunya untuk dia pergi selama-lamanya, akar dapat mengambil manfaat dari tubuhnya yang telah bercampur tanah itu
Mungkin saja daun yang jatuh itu sangat terkejut ketika tangannya terlepas begitu saja saat sedang merasakan sejuknya angin yang berhembus. Berpikir apakah tangkai sengaja melepaskan pegangannya yang selama ini terasa erat mencengkram daun agar dia tak jatuh. Atau apakah sang angin yang dia kira menawarkan kesejukan itu diam-diam telah lama berencana untuk membuatnya terpisah dari dekapan tangkai. Pikiran daun yang jatuh semakin membuat dadanya sesak dan disaat terombang-ambing, sekelilingnya justru mulai menghakimi bahwa daun yang meninggalkan tangkai dan sang pohon. Melepas kenyamanan yang telah diberikan dari sang pohon. Tak tau rasa terima kasih, begitu hujatan yang daun terima. Daunpun semakin bersedih.
Dalam hatinya, dia tak pernah berpikir sekalipun untuk meninggalkan tangkai dan sang pohon. Memberikan seluruh kepercayaannya pada tangkai saat hujan angin menerpa. Melindungi sang pohon dari teriknya matahari yang menyinari. Sebagai rasa sayangnya, daun sengaja menghadapkan dirinya kepada sinar sang matahari, mengambil simpanan mineral dari akar lalu memasaknya dan membagikannya untuk tangkai, akar, dan sang pohon. Daun senang dapat melakukan itu, membuatnya berguna untuk mereka semua. Walau kadang jika simpanan mineralnya habis, tubuhnya lemas tak bertenaga. Tangkai dengan erat memegang lengan daun sampai akar kembali dari perjuangannya menembus lapisan tanah demi kesembuhan daun.
Kemudian sampai akhirnya daun jatuh terombang-ambing lalu berakhir di tanah. Tapi apa kamu tau apa doa terakhir daun yang jatuh? Dalam doa terakhirnya dia meminta semoga Tuhan membuatnya terjatuh tepat diatas akar dan disamping sang pohon agar jika telah tiba waktunya untuk dia pergi selama-lamanya, akar dapat mengambil manfaat dari tubuhnya yang telah bercampur tanah itu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar