Konon, ini adalah wabah yang pasti diderita oleh
penghuni ruang tunggu. Seperti endemik, ia tidak mungkin dibasmi atau
dipindahkan dari sana. Menunggu adalah aktivitas yang sudah disepakati menjadi
biang keroknya. Lalu, apakah menunggumu juga akan menyebabkan rindu? Kamu pasti
bertanya demikian. Di ruang tungguku,sepi adalah penyebar utamanya. Ia selalu
menyelinap masuk dari jendela. Sebagai penyakit yang pasti kuderita, apa boleh
buat, yang harus dilakukan adalah mengakrabinya. Manusia yang berada di luar ruang
tunggu berkata, satu-satunya obat rindu adalah bertemu.
Hei kamu, apa yang akan terjadi padaku, si pengidap rindu
yang belum tahu di mana kamu. Lalu bagaimana nasibku bila itu adalah
satu-satunya penawar Bagaimana jika? Bagaimana jika? Bagaimana jika? Itu
pertanyaan yang selalu datang ketika aku mengharapkan pertemuan. Ia bagaikan
harga yang harus kubayar tunai untuk mendapatkan penawar. Pertemuan merupakan
kemewahan yang tak mudah didapat. Ia adalah penawar paling mahal bagi manusia
ruang tunggu.
Haruskah aku jual benda-benda yang ada di sini? Waktu.
Ya, haruskah aku menjualnya? Padahal dia adalah teman paling setia. Atau aku
harus menjual kesetiaan? Kata orang, harganya paling mahal di luar sana.
Kenangan? Apakah ia berharga? Siapa yang mau membeli kenangan manusia ruang
tunggu? Di dalamnya hanya ada kisah-kisah kebosanan menaklukkan penantian.
Bagaimana menurutmu bila kebosanan itu yang aku jual? Ah, siapa yang mau beli.
Nampaknya dijual di pasar ikan pun tidak akan ada yang membelinya. Diobral,
bahkan ditulisi kata “sale” belum tentu ada yang mendekat padanya.
Buatku, membeli penawar adalah sesuatu yang agak
berat. Surat-surat ini mengkin jadi terapi. Memang tidak akan mengobati, tapi
paling tidak, bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya. Ngomong-ngomong, di luar
sana, apakah kamu pernah mengalami penyakit yang sama? Menurut desas-desus,
kecemasan menjadi penyakit yang menimpa manusia jenis kalian. Apa yang kamu
cemaskan, Sukab? Bahkan penyakit yang menjangkitiku adalah kamu penawarnya.
Kamu harus terbebas dari kecemasan. Jangan sampai kamu mati karena penyakit
itu. Mati dalam kecemasan merupakan kematian paling takberharga. Cukup
berpikir, kamu harus hidup untuk menyelamatkanku dari wabah ruang tunggu.
Aku sering melakukan kesepakatan dengan Tuhan.
Bagaimana jika aku keluar dari ruang tunggu ini dan mencarimu. Tuhan berkata
bahwa kamu sedang mencariku. Aku jadi urung melangkahkan kaki. Bagaimana
ceritanya dua orang yang saling mencari akan bertemu? Bukankah pasangan sejati
adalah mencari dan dicari. Mungkin Tuhan memberi peringatan bahwa orang-orang
yang dicari tidak boleh berkeliaran. Dalam keadaan menunggu seperti ini, aku
selalu berpikir keras, apakah kamu sadar sedang ditunggu? Jangan-jangan kamu
tidak sadar sedang ditunggu? Bisa jadi kamu malah sedang menunggu. Boleh jadi,
kamu malah tidak sedang mencariku. Intrupsi-intrupsi tentangmu kerap aku
sampaikan kepada Tuhan. Namun, hanya ada satu jawaban untuk manusia jenis kami:
keyakinan.
Jawaban itu menjadi rasa sakit yang lain lagi.
Kata-Nya, itu vaksin yang menjaga imunitas di ruang tunggu. Haruskah aku
takmempercayai Tuhan dalam hal ini? Terlalu durhaka memang. Vaksin ini sudah
tersedia di setiap sudut ruang tunggu. Hanya saja, tidak setiap orang
memilihnya.
Pada lain waktu, aku meminta izin untuk mencari
orang-orang yang mungkin mengenalmu. Tidak perlu bertemu, mungkin hanya
menelpon, atau facebook. Ia malah berkata, kepada siapa kamu
akan bertanya? Aku salah ucap kepada Yang Maha Tahu nampaknya. Aku terlalu malu
untuk bertanya kepada-Nya karena Ia paling tahu kebusukanku. Ia paling tahu
kesiapanku bertemu kamu. Akhirnya aku menyerah pada surat-surat yang berakhir
di ruang tunggu.
Tetaplah hidup, karena aku masih bertahan hidup sampai
saat ini. Jangan terlalu cemas, karena aku baik-baik saja dengan keadaanmu yang
sekarang. Kita hanya perlu bertemu sekali. Apa yang akan terjadi setelah itu,
kita pikirkan nanti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar