Selasa, 23 Februari 2016

Maaf


Sepertinya kita memang ditakdirkan Tuhan untuk bertemu. Hari itu kita sama-sama menunggu tanpa tau apa yang sedang kita tunggu. Hari itu juga gerimis turun satu-satu, suasananya membuat rindu.. Oh bukan, bukan rindu. Tapi syahdu.
Sehari, dua hari, intensitas temu semakin menjadi-jadi. Tak ada hal yang luar biasa. Hanya saja, aku semakin sering menatap punggungmu, atau bahkan mencari sosok lugumu ditengah suasana riuh sekolah yang membuat haus. Tapi aku tak seberani itu untuk berada dihadapanmu.
Beberapa tulisanku yang menggunakan sudut pandang orang kedua kini selalu tentangmu. Ya, tak pernah ku pungkiri itu. Karena lidah terlalu kelu untuk menyampaikan apa-apa tentangmu, namun diujung pena kutuliskan beribu kata yang mungkin tak akan pernah kau tau.
Ah, kadang aku bertanya, ada apa denganku. Sepertinya sudah mulai menanggalkan masa lalu. Karenamu kah? Atau memang kamu adalah salah satu dari jutaan manusia yang memang diciptakan untuk menyembuhkan luka untuk siapa saja. Ya, untuk siapa saja, bukan hanya untukku. Karena itu aku cukup tau diri, kutanggalkan semua tentangmu sebelum semuanya benar-benar menjalar dan membuat hatiku semakin jatuh terkapar.
Ini bukan surat untuk disampaikan, hanya sekedar tulisan dari gadis yang baru saja terjatuh dalam pesona seseorang yang biasa saja namun dengan segala kesadaran harus segera melepaskan.
Ya, untuk seseorang yang mungkin hatinya sudah terisi penuh oleh sebuah nama. Maaf atas segala keabnormalan perasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar