Mataku diwarisi basah oleh diammu. Ia lelah mencari celah untuk tahu kedalaman hatimu. Serupa percuma, sebab aku bukan cenayang yang bisa tahu tanpa kamu bercerita dengan runut satu-satu.
Pertemuan adalah gerbang. Katamu. Kau akan mengajakku masuk untuk melihat semuanya tanpa ada lagi rahasia. Aku khawatir. Kalau-kalau, kau pikir, menemuimu tak pernah mampir di kepalaku.
Aku rengkah dengan kedalaman yang sama, sebab diammu yang juga sama. Kekasih, beratkah berkata sudah? Enggankah berkata tolong betah? Bagimu, sulitkah untuk berhenti membuatku regah?
Banyak yang ingin aku tanyakan. Meski tak yakin semuanya akan bermuara pada sebuah jawaban; meski nanti akhirnya takdir kita adalah dipertemukan.
Mungkin aku yang salah. Terlalu dalam tenggelam pada dadamu yang hingga kini bagiku masih terasa kelam. Aku minta maaf, sudah menitipi pundakmu dengan harapan yang terlalu tinggi. Kepalamu pasti pusing sekali.
Kali ini jangan berkata tidak apa-apa! Katakan kau tidak suka dan ingin aku pergi saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar