Selasa, 16 Februari 2016

Pada Akhirnya.....



Kamu masih menjadi raja, duduk di singgasana yang kubangun dari sesuatu bernama cinta. Dan rupanya, cemburuku mengawalmu dengan setia, mengikuti ke mana kamu melangkahkan kaki. Aku hanya jelata, melayanimu demi secawan temu penawar rindu.
Lelahku jangan ditanya. Rinduku bukan satu-dua. Ia tak terhingga, memenuhi ruang di kepala, menyesakkan rongga dada. Melayanimu, aku inginnya berhenti saja, membiarkan rindu berdiam di sana; di kepala dan rongga dada. Namun sayangnya, ia semakin berkuasa. Ditanamkannya luka untuk setiap rindu yang tak terbayar. Bukan main sakitnya. Tak berdaya aku dibuatnya.
Pernah aku mencoba, menuliskan rindu-rindu itu pada lembaran-lembaran, lalu kuterbangkan. Barangkali ia hendak berpindah tujuan. Tapi nyatanya, hingga aku jemu, rinduku tetap memilihmu.
Katakan rinduku tak tahu diri, menginginkanmu yang terlalu tinggi. Siapa yang akan peduli? Aku? Tidak sama sekali. Percuma saja, karena pada akhirnya, hingga aku membenci diri sendiri, rindu untukmu masih enggan pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar