“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah berjaga hingga kelesuan itu lesu menemanimu. Dan teruslah berjuang, hingga kejenuhan itu JENUH memerangimu!”
Saat kau tak ada di sampingku kala aku tengah tersengal-sengal berjalan, aku takkan marah padamu, kawan. Saat aku tengah letih melanjutkan perjalanan hingga akhirnya aku memilih berdiam sejenak, aku takkan menuntutmu untuk bergerak membantuku, minimal memberikan aku makan ataupun minum penghilang rasa letih ini, aku takkan menuntut itu, kawan.
Tapi kala aku berdiam senejak, aku merasakan kejenuhan, kawan. Aku jenuh dengan perjalanan ini. Jalanan ini terlalu sepi, jalanan ini gersang, tak kutemui ada pohon rindang di sepanjang jalan ini, dimana aku bisa sekadar duduk merasakan semilir angin sejuk di sana. Padahal matahari sedang terik-teriknya sejak kumulai perjalanan ini. Aku menghela nafas. Kulanjutkan perjalanan ini dengan langkah gontai.
Lalu, kurasakan ada aliran hangat di kedua pipiku.
Aku berjalan. Aku berjalan dan kadang menoleh kebelakang, berharap kutemui kau menyusulku. Tapi nihil, kawan. Aku kembali menghela nafas. Aku bergumam dalam hati, “Tenang kawan, aku mengerti. Kau orang yang sibuk, lebih sibuk dariku. Kau punya amanah dimana-mana.” Aku tersenyum sambil menyeka aliran hangat yang sedikit mengering di kedua pipiku.
Aku takkan memaksamu untuk peduli padaku. Aku takkan memaksamu berjalan bersamaku. Karena aku pun tahu, jalan ini tak enak. Jalan ini sungguh tak enak. Bagaimana mungkin aku memaksamu, sedang aku terus-terus merasakan kejenuhan di jalan ini. Kau pun pasti mengerti, jika saja jalan ini enak, sudah pasti banyak yang kan melewatinya. Jalan ini takkan sepi jika saja ada kau di sini, kan? Tapi, itu hanya sekadar harapku.
Takkan kupaksa kau berletih-letih di jalan ini. Kan kubiarkan kau memilih jalan yang kau sukai. Asalkan, kau lalui jalan itu dengan sabar dan semangat tak kenal jenuh. Tapi jika kau jenuh, kau boleh sesekali mengabarkan padaku. Aku pasti akan ada, menjadi tempat sandaranmu kala kau butuh tempat bersandar untuk sekadar melepas kejenuhanmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar