Sabtu, 27 Februari 2016

Rindu dan Rindu Lagi


Dua bulan yang lalu, aku masih bisa menatap pandangan matamu yang tajam, aku bisa merasakan kehadiranmu, goresan luka menghentakan waktu, dan suasana berujung pilu. Mengguratkan abu di langit biru. Rintik hujan berseru seakan alam pun tau. Sampai kini pun kau tak pernah mau. Sampai kapan langit ini terus berkelabu?
Haruskah aku yang terjatuh, terinjak-injak dan terjatuh kembali ini mengajakmu kembali memandang langit biru yang berganti senja? Bisakah aku yang terjatuh, terinjak-injak, dan terjatuh kembali, berdiri lagi menatap pandanganmu yang tajam itu? Bisakah aku mengajakmu memandang langit biru? Bahkan mungkin kamu takkan peduli jika aku dapat berdiri kembali, menatapmu dengan segudang pertanyaan.
Aku menatap hamparan lautan biru. Mencoba bersabar menanti senyuman senja di sudut langit biru. Pasir hangat yang terjemur terik mentari, menopang tubuhku. Angin laut menyentuh tulangku, menyadarkan ku dari lamunanku. Luka ini terasa pilu diterpa angin laut. Dia menyapu butiran suci yang tidak bisa dibendung lagi.
Aku melihat batu karang yang terhempas deru ombak. Batu itu sangat besar dan kuat. Namun sebesar dan sekuat apapun batu itu.Seiring berjalannya waktu, akan hancur berkeping keping di hempas deru ombak.  Namun sayangnya “batu” ini berbeda, batu ini terlalu kokoh. Apapun yang menghalanginya, ia takkan pernah mengalah, bahkan mungkin ombak yang menghempasnya yang akan hancur.

Aku menatap kembali langit biru dengan penuh keraguan. Langit biru pun berganti senja. Aku menatap sendiri lukisan lembayung di langit senja. Menatap pantulan senja di lautan biru. Aku masih mematung di atas pasir. Hanya aku sendiri yang memandang senja. Bukan dengan kamu ataupun dia. Hanya aku seorang. Memandang senja bersamaku pun engkau enggan.

Apalagi “menatapku” kembali?

Apa harus aku terombang ambing di lautan biru, terguling-guling di lembahan yang berliku liku, terjatuh dari ketinggian, terinjak-injak dari kebenaran, dan terisak-isak memanggil namamu, agar kamu mau menoleh ke belakang, menatapku kembali?
Sampai kapan begini?
Sudah tak pedulikah kamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar