Jumat, 09 Mei 2014

Mendidik Bukan Hanya Mengajar

Aku sekarang berada di lapangan sekolah SMAN 2 bla bla bla. Yap, sekolah aku dulu, dimana masa SMA, aku habiskan di sekolah ini, kira-kira 3 tahun yang silam. Aku mau mendeskripsikan dulu tata letak lapangan yang aku maksud ini sebelum aku menulis lebih panjang lagi, lapangan itu tidak begitu luas dan tidak juga sempit, di bagian timur dan utara terdapat kantor, kantin dan kelas-kelas yang kami gunakan untuk belajar (bukan untuk bermain, hehehe), tapi sekarang kelas-kelas itu bukan hanya digunakan untuk belajar, tetapi juga dijadikan gudang pacaran, mereka tidak bisa mengartikan lagi makna sekolah, mereka sudah lupa pada definisi sekolah yang kami artikan, mungkin bahkan mereka tak mengerti lagi kata sekolah yang kami agung-agungkan dulu. Balik lagi ke tata letaknya, di bagian selatan terdapat perpustakaan, aku sering menghabiskan jam kosong dan jam istirahat di  tempat itu, tetapi sebagian temanku bilang tempat itu adalah tempat yang tidak menyenangkan bagi mereka, tempat yang paling seram, mungkin mereka takut berhadapan dengan buku-buku yang tebal inchinya, mereka sering menghabis jam istirahat di kantin. Di depan perpustakaan, kira-kira lima meter jauhnya, di situ terdapat pohon kuda-kuda, pohon itu masih terlintas di ingatanku, banyak kenangan yang terukir di situ, masih kokohkah ia, masih sesejuk dulukah, tak bisa di nalar lagi. Jadi, lapangan kami terletak pas di tengah area sekolah, bagian baratnya terdapat lapangan volly. Di lapangan ini terselip kisah silam yang seharusnya tidak usah diungkit lagi, tapi rasanya sesak dada ini kalau tidak saya curahkan. Mudah-mudahan kisah ini menjadi suatu pelajaran bagi pendidik di seluruh Nusantara.

Aku bukanlah siswi yang bandel, cerewet atau semacamnya lah. Aku siswi yang penurut. Tapi walaupun siswi yang patuh, aku tidak lepas juga dari genggaman hukuman, yang sebenarnya bukan kesalahanku. Aku pernah dijemur di lapangan bersama kawan-kawan ku. Sebenarnya itu bukan suatu keinginan ku untuk bermanja ria di bawah terik matahari, itu hal yang sangat aku benci, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa, para guru sudah memutuskan seperti itu.

Kalian pasti bertanya, kenapa aku di jemur di lapangan ini, kok bisa ya, padahal aku kan bukan ikan asin, bukan juga baju yang baru siap di cuci? Kami dijemur karena absensi kelas kami ditemukan di toilet, sungguh tragis memang, bisa dikatakan itu suatu penghinaan atau pelecehan terhadap sekolah. Absensi ditemukan tentunya dalam keadaan basah, nama-nama kami tidak bisa dibaca lagi, bahkan kalau dilihat dengan kaca pembesar, semua sudah di makan air. 


Yang menjadi permasalahannya adalah, tidak ada seorang pun di antara kami yang mau mengakui siapa yang telah berbuat hal keji itu. Susah memang untuk mengetahui siapa pelakunya, tapi tidak semuanya harus dihukum kan? Bahkan ketika kami dijemur tidak satu orang pun yang mau mengakuinya juga. Aku merasa tidak adil atas keputusan para guru, aku ingin protes, tapi tidak berani. Aku terpaksa menerima hukuman tersebut walaupun seluruh tubuhku sudah kepanasan dan keringat-keringat sudah mulai membasahi tubuhku. Hukuman tetap berjalan, tapi hasilnya tetap nihil, tidak ada yang mau mengaku.

Begitulah guys, ngga ADA yang mau mengaku, kenapa? Karena keputusan yang di ambil para guru bukan suatu kebijakan yang bijaksana. Coba dipikirkan, mereka menghukum semua murid yang kesalahannya bukan kesalahan bersama, tapi kesalahan satu orang. Sebenarnya ada kebijakan-kebijakan lain yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Misalnya seperti memanggil satu per satu siswa ke ruang BP, disana beliau bisa menanyakan  pertanyaan demi pertanyaan kepada setiap siswa. Aku rasa berbicara empat mata dari hati ke hati, membuat (si pelaku)t hatinya luluh, anak sekarang bukan seperti anak zaman dulu, sekali di gertak akan ketakutan. Anak sekarang harus kita bicara lembut tapi tegas. Terkadang kita untuk mengetahui sisi mereka kita harus masuk ke dunia mereka. Memang sulit untuk menjadi seorang guru, karena guru adalah orang tua kedua setelah Ayah dan Ibunya.

Tugas guru adalah mendidik, tetapi mendidik bukan hanya mengajar. Mendidik tidak semudah menanam bibit di tanah, gali lobang, masukin benihnya lalu tunggu sampai seminggu sudah tumbuh sesuai kehendak kita. Tapi sebenarnya bagaimana cara kita merawat tanaman itu tumbuh dengan subur dan akan menghasilkan buah yang bagus. Mendidik anak bukanlah persoalan yangg gampang, sering kita maunya begini malah anak maunya begitu. Repot, kan ? Dalam ilmu mendidik anak, mengarahkan anak dengan tangan besi sudah bukan masanya lagi. Satu hal yg sangat penting dalam mendidik anak adalah pendekatan secara psikologis - kejiwaan. Ada anak yang sekali dua kali ngomong langsung menurut, tapi tidak sedikit anak yg memerlukan bimbingan yg terus menerus. Disinilah pendekatan secara psikologis itu penting.

Mendidik juga bagaimana caranya kita membimbing siswa atau anak ke arah yang lebih benar. Mendidik tidak dengan kekerasan tetapi dengan ketegasan.

"Guru bukanlah sosok yang ditakuti, tetapi sosok yang disegani"

Keep Fighting Teachers !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar