Senin, 19 Mei 2014

Ayah

Sabtu, 17 Mei 2014

Pagi ini tiba-tiba ayah menelpon, ada apa gerangan? Apakah ada sesuatu terjadi di rumah?, cepat-cepat akau menjawab telponnya, rupanya Ayah mengabariku kalau hari ini ayah ke Banda Aceh. Kalian pernah merasakan bagaimana rasanya dihubungi oleh Ayah? Pasti bahagiakan? Senang rasanya, hati ini berbunga-bunga, layak seorang wanita menunggu sang kekasih datang padanya.
Ayah sangat perhatian padaku, apalagi dengan kondisi aku sekarang kuliah di lain tempat yang jauh dari rumah. Aku harus ngekost karena jaraknya yang jauh dengan puluhan kilometer. Di puluhan kilometer jarakku dengan rumah, aku berpikir mengenai alasan Ayah mengapa sedemikian perhatiannya denganku saat aku jauh. Akhirnya, kuputuskan satu alasan, kuanalogikan pada satu hal yakni kupu-kupu. Analogi itu merujuk padaku.
Jika selama ini induk kupu-kupu selalu menjaga anak-anaknya dari telur, ulat, kepompong hingga kupu-kupu, lalu ketika anaknya besar dan menjadi kupu-kupu dewasa yang cantik, anaknya meninggalkannya. Kau pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan terlebih lagi kehilangan sesuatu atau seseorang yang kau sayangi? Ya, begitulah perasaan seorang Ayah. Ia rapuh sebenarnya, meski tampak kuat. Ia tak ingin kehilangan seorang yang amat disayangi, dijaganya dari kecil, namun ketika dewasa meninggalkannya. Gadis kecilnya kini telah menjelma menjadi kupu-kupu dewasa nan cantik, lalu terbang tinggi dan jauh.
Masih berpikir tentang Ayah, aku mendapatkan satu kesimpulan lain tentangnya. Tentang mengapa dirinya selalu tampak galak dan jahat di depan anak-anaknya. Satu hal yang kudapatkan bahwa ayah sebenarnya tak ingin anaknya cedera. Tak ingin anaknya lemah, hingga tak sanggup membuat anaknya kembali bangkit. Ia sengaja selalu tampak galak, jahat, tetapi tegas, karena ia sayang dan tak ingin anaknya cedera. Bukan jahat, kalian hanya salah mengira. Ayah yang sebenarnya adalah ia yang selalu menjaga buah hatinya bahkan hingga sering melupakan kebutuhannya sendiri.
Jika kalian tak percaya dengan seberapa besar kasih sayang Ayah terhadap kalian, coba tengok album foto keluarga dan cari dimana Ayah kalian berada. Benar, beliau selalu ada di belakang kamera, memotret setiap detail tingkah kita dan anggota keluarga yang lain. Ayah, bahkan rela tak ikut berpose demi melihat senyum kita di depan kamera.
Dan, menghamburlah kalian pada pelukan Ayah, ucapkan rasa sayang kalian sebelum segalanya terlambat. Ayah, tak akan kekal selamanya. Namun, cintanya sepanjang zaman. Love u daddy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar