Perkenalkan, aku adalah batu intan biasa. Aku tidak ada bedanya dengan batu-batu lainnya. Aku hanyalah sebongkah batu yang tidak ada gunanya. Aku melihat diriku sebagai sesuatu yang tidak cantik. Mungkin sudah nasibku untuk menjadi seperti ini. Yang lebih menyedihkan lagi adalah aku harus menjalani penderitaan yang begitu berat dalam hidup ini. Mengingat itu semua, aku merasa sangat sedih. Tapi, aku tidak dapat berbuat apa-apa, aku hanya bisa pasrah.
Penderitaanku dimulai ketika aku diambil oleh seorang pengrajin. Saat itulah aku harus menjalani penderitaan demi penderitaan yang begitu pedih. Pengrajin itu sungguh kejam. Ia meletakkan aku di atas cetakan semen, sehingga aku tidak dapat melarikan diri. Aku tidak berdaya untuk bergerak. Tidak lama kemudian, pengrajin itu mengmbil pisau pemotong dari baja dan mulai membelah badanku menjadi dua. Ia sungguh tega memperlakukanku dengan begitu kejam .Rasa sakit yang kuterima sungguh tak tertahankan. Aku berteriak kesakitan dan berteriak minta tolong, namun ia tak menghiraukan kesakitanku. Malah ia terus memotong dan membelah tubuhku menjadi dua.
Kadang-kadang, jika tubuhku sangat keras sehingga pisau pemotong biasa tidak mampu membelah dua diriku, maka ia akan mengambil pisau bor bahkan laser untuk membelahnya. Kalian bisa bayangkan ketakutan yang aku alami saat itu. Aku terus memohon pada pengrajin itu untuk melepaskanku, aku terus memohon ampun, sungguh sayang, permohonanku tidak dihiraukannya. Malah semakin bersemangat untuk memotong diriku. Aku hanya bisa pasrah dan menangis melihat diriku terbelah dua. Sungguh penderitaan yang tidak sanggup aku tahan. Aku terus berteriak dan bertanya mengapa hidup ini sungguh tak adil dan mengapa aku harus menjalani siksaan yang sangat menyakitkan, sedangkan batu-batu lain hidup tenang-tenang saja tanpa harus disiksa seperti ini.
Penyiksaan terhadap diriku masih belum usai. Setelah tubuhku terbelah dua, pengrajin akan memotong dan membuang bagian tubuhku yang tidak berguna untuk membentuk diriku sesuai keinginannya. Ia mengambil batu intan yang lain untuk menyayat bagian tubuhku untuk dibuang. Aku sungguh tak kuat untuk menahan rasa sakit ini dan terus berharap supaya kesulitan ini akan segera berakhir. Sayatan dmi sayatan membuat diriku meringis kesakitan. Seberapa besar sakitnya diriku, pengrajin itu tetap tak peduli. Ia terus menyayat, mengikis, dan membuang bagian tubuhku sedikit demi sedikit. Aku terus berteriak "Aduh" sekuat-kuatnya. Rasa sakitku sedikit berkurang setelah pengrajin itu puas dengan bentuk tubuhku yang baru.
Tapi, pengrajin itu belum puas. Ia muai membawaku ke tempat lain. Aku mulai merasakan ketakutan yang mendalam. Aku takut jika harus menjalani penyiksaan lagi. Aku sungguh tak mau lagi diperlakukan sangat kejam dan tanpa ampun. Kemudian, aku dibawa mendekat ke sebuah mesin gerinda yang rodanya dibalut serbuk intan yag sangat keras. Aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba roda gerinda berputar dengan kecepatan tinggi. Kemudian, pengrajin itu menangkap diriku dan mendekatkannya ke roda berputar tersebut. Aku terus berteriak "Jangan, aku mohon hentikan." Tapi percuma, ia tidak mau mendengarkan kepedihanku. Rasa sakit yang tak tertahankan terjadi ketika diriku bergesekan dengan roda gerinda tersebut. Tubuhku terkikis dengan mengerikan.
Aku terus meronta dan menangis sekuat-kuatnya, terus mengeluh akan nasib hidupku yang begitu malang dan menyedihkan. Aku marah dan benci pada diriku sendiri yang menjadi sebuah batu intan. Andaikan aku bukan intan, maka aku tidak akan seperti ini. Aku pasti akan hidup tenang seperti batu-batu biasa lainnya. Aku terus digesek dan dikikis, sehingga lengkap sudah penderitaanku yang tak kunjung usai. Kalian pasti bisa membayangkan sakitnya ketika kalian disiksa seperti ini. Aku merasa bahwa adalah batu paling malang dan paling sial di dunia ini. Roda gerinda mulai berhenti dan aku bisa sedikit lega dan beristirahat. Aku berpikir bahwa aku akan menjalani penyilsaan selanjutnya. Tapi untunglah, ternyata ini adalah yang terakhir.
Aku sungguh malu akan diriku yang sekarang. Aku tidak dapat membayangkan bentuk diriku yang telah dipotong, dibelah, disayat, digesek dan dikikis. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana orang lain melihatku. Mereka pasti akan menertawakan dan mengejekku. Aku sekarang sudah cacat seumur hidup dan tidak sempurna lagi, aku jadi rendah diri dan pemalu.
Kemudian, aku dibawa ke sebuah toko perhiasan dan aku diletakkan di tempat pajangan. Aku yakin aku diletakkan di sana supaya orang-orang bisa menertawakan kejelekanku. Aku yakin aku hanya akan dijadikan barang tertawaan. Aku sedih karena harus menanggung malu setelah menjalani siksaan panjang.
Tiba-tiba, seorang wanita cantik menuju ke arahku dan memandang diriku. Aku sungguh malu dan berusaha menghindar. Sebentar lagi aku pasti ditertawakan dan dihina. Tapi, ada sesuatu yang aneh. Wanita itu sama sekali tidak tertawa. Ia bahkan kagum seakan-akan sedang melihat sesuatu yang indah. Aku jadi heran bercampur bingung. Begitu juga dengan wanita-wanita lainnya yang memandangku. Mereka tidak tertawa sedikitpun. Mereka terus mengatakan bahwa aku sungguh indah dan cantik. Karena penasaran, aku memandang diriku di depan cermin.
Aku sungguh terbelalak dan kaget bukan main ketika melihat diriku sendiri. Aku sekarang sungguh indah dan berkilau. Keindahanku sungguh tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Aku hampir tidak percaya dengan penglihatanku ini. Aku mengira ini hanya mimpi, tapi ini kenyataan. Aku dulunya hanya sebongkah batu biasa ternyata telah berubah menjadi berlian yang berkilau terang dan indah. Tanpa sadar aku menitikkan air mata dan sadar bahwa penyiksaan yang diberikan padaku tidak lain adalah agar aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Semua penderitaan dan kesakitanku yang pernah kualami menjadi sirna ketika melihat diriku yang indah memancarkan sinar berkilauan yang membuat setiap orang terpesona.
Sekarang, aku sungguh percaya diri dan menyayangi diriku sendiri. Aku menjadi incaran dan idola wanita. Mereka sekarang tergila-gila padaku. Yang membuatku lebih bahagia adalah nilai diriku yang dapat mencapai miliaran rupiah. Aku sungguh bangga akan diriku sendiri. Aku terus tersenyum ketika melihat diriku di depan cermin. Inilah diriku yang sebenarnya. Aku sadar bahwa aku ditakdirkan menjadi berlian yang berharga, bukan menjadi sebongkah batu intan biasa. Sekarang bagaimana dengan kalian?
Itulah sepenggal kisah tentang batu intan yang harus menjalani berbagai proses dan kemudian berubah total menjadi berlian yang sungguh mengagumkan. Begitu juga dengan kita, Kita sekarang mungkin merasa bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita mungkin menganggap bahwa kita seperti batu intan biasa yang tidak ada apa-apanya. Tapi, ingat, kita juga bisa menjadi seperti berlian yang sangat berharga dan bernilai. Kita juga bisa berubah dari seorang yang biasa-biasa menjadi seorang yang sangat luar biasa dalam hidup kita. Kita hanya perlu dipoles, sehingga akan mampu menjadi berlian.
Tunggu saja tulisan selanjutnya tentang bagaimana memoles diri kita menjadi sekilau dan seindah berlian yang dikagumi banyak orang. See you !!
Tunggu saja tulisan selanjutnya tentang bagaimana memoles diri kita menjadi sekilau dan seindah berlian yang dikagumi banyak orang. See you !!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar